Ratusan Peneliti Kehutanan Bahas Inovasi dan Tantangan Silvikultur Tropis
Ratusan peneliti kehutanan bahas inovasi untuk keberlangsungan dan tantangan Silvikultur Tropis dalam The 2 nd International Conference on Tropical Silviculture (ICTS) 2019 dengan tema ‘Forest Research And Innovation for Sustainable Development’. Acara yang digelar Departemen Silvikultur, Fakultas Kahutanan IPB University bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi ini dilaksanakan di IPB International Convention Center pada 10-11 September 2019.
Wakil Rektor bidang Kerjasama dan Sistem Informasi IPB University, Prof. Dodik R Nurrochmat, menyampaikan tantangan yang dihadapi dunia untuk bertahan dengan baik di lingkungan global.
Prof. Dodik berbagi perspektif dan pandangan tentang bagaimana silvikultur tropis mengatasi tantangan dan mengembangkan strategi terbaik di era disrupsi.
Prof. Dodik menyampaikan masalah kelestarian hutan tropis telah meroket secara global saat ini. “Hutan tropis, memainkan peran penting dalam aspek produksi, baik untuk produk kayu maupun nonkayu, serta konservasi keanekaragaman hayati. Namun, hutan Indonesia menghadapi laju deforestasi dan degradasi lahan yang tinggi. Kondisi ini meningkatkan kebutuhan pengelolaan hutan yang lebih baik dan sistem pemantauan yang memenuhi efisiensi, cepat tetapi dapat diandalkan, berbiaya rendah dan ramah pengguna. Di sisi lain, paradigma baru tentang kehutanan kini sedang bergeser dari pengelolaan berbasis kayu tradisional ke pengelolaan berbasis ekosistem hutan.”
Menurut Prof. Dodik Pengelolaan hutan pada awalnya difokuskan semata-mata pada hasil yang bertujuan untuk memaksimalkan tingkat produksi, tetapi sekarang telah berubah menjadi input, proses dan hasil yang terintegrasi untuk mempertahankan fungsi ekosistem hutan untuk mencapai keberlanjutan ekosistem. Silvikultur tropis ini memainkan peran penting. Karena seni dan ilmu mengendalikan pembentukan, pertumbuhan, komposisi, kesehatan, dan kualitas hutan untuk memenuhi beragam kebutuhan, untuk kebutuhan paradigma baru kehutanan silvikultur mungkin menjadi jawaban terbaik.
“Sebagai universitas terkemuka di Indonesia, khususnya dalam bidang kehutanan dan pertanian, IPB University selalu bergerak maju untuk menjawab kebutuhan akan sistem pendidikan yang tepat di era ini. Oleh karena itu, memperkenalkan industri pengajaran silvikultur 4.0 untuk menjawab perlunya pendekatan silvikultur yang sesuai untuk paradigma baru kehutanan. Industri pengajaran adalah konsep pembelajaran yang berorientasi pada proses penguasaan keahlian dan keterampilan untuk menghasilkan produk yang sesuai untuk menjawab tantangan perkembangan Era Industri 4.0,” papar Prof. Dodik.
Senada dengan Prof. Dodik, Ketua Departemen Silvikultur, Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS, kurikulum pendidikan terkait silvikultur harus terintegrasi mulai dari menanam, perawatan hingga hasil panen, sehingga lulusan paham betul bagaimana membangun hutan. “Keluaran dari pembelajaran ini adalah menghasilkan lulusan yang memiliki karakter mulia, peserta didik yang gesit, dan memiliki kompetensi luar biasa di bidang silvikultur tropis yang di masa depan akan dibutuhkan oleh dunia bisnis dan industri. Industri pengajaran ini menghubungkan dan menjembatani sains dan pasar,” kata Dr. Haneda.
Lebih lanjut Dr. Haneda mengatakan menerapkan industri pengajaran silvikultur 4.0 membutuhkan dukungan besar dari berbagai pemangku kepentingan. Struktur kurikulum untuk industri pengajaran ini harus didasarkan pada temuan dan inovasi terbaru dari penelitian dan praktik yang dilakukan oleh para peneliti, akademisi, pengusaha, dan praktisi. “Oleh karena itu, saya sangat menghargai upaya yang dilakukan oleh Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan untuk mengadakan forum ilmiah ini,” jelasnya.
Ketua ICTS 2019, Dr. Ir. Prijanto Pamoengkas, MScFTrop menyampaikan tujuan konferensi ini adalah untuk menyebarluaskan hasil penelitian dan inovasi dalam lingkup silvikultur tropis untuk pengembangan hutan berkelanjutan, dan untuk memberdayakan dan meningkatkan peran silvikultur Indonesia dalam pengembangan penelitian, inovasi, dan kebijakan pengelolaan hutan.
Kegiatan yang didukung oleh Regional Fire Management Resource Center-Southeast Asia (RFMRC-SEA) SEAMEO- BIOTROP Pusat Studi Lingkungan Universitas Maryland (UMCES), Komunitas Silvikultur Indonesia (MASSI) dan Himpunan Profesi Tree Grower Community Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan ini dihadiri sekitar 200 peserta dari akademisi, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan dari Indonesia, AS, Jerman, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, dan Australia. (dh/ris)
