Halal Science Center Ajak, Peneliti Manfaatkan Instrumen Real Time PCR
Pusat Kajian Sains Halal atau Halal Science Center, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) IPB University ajak civitasnya untuk memanfaatkan fasilitas laboratorium berupa instrumen Real Time Polymerase Chain Reaction (PCR), yakni RotorGene Q 5 Plex dari Qiagen yang dimiliki Halal Science Center (HSC). Polymerase Chain Reaction (PCR) adalah sebuah metode yang secara luas digunakan dalam biologi molekuler untuk membuat salinan-salinan segman DNA secara spesifik. “Kami sangat terbuka jika ada civitas IPB University yang ingin memanfaatkan (resource sharing) atau juga bekerja sama dengan kami untuk menggunakan Real Time PCR,” ucap Sekretaris Pusat Kajian Sains Halal, Dr. rer. nat. Noviyan Darmawan dalam Workshop Real Time PCR dan Aplikasinya, pada 25-26 Juni 2019 di Kampus Baranangsiang, Bogor.
Sebanyak 25 peserta yang hadir berasal dari dosen atau peneliti, tenaga laboratorium departemen dan pusat studi di lingkungan IPB University, serta mahasiswa pascasarjana yang fokus pada penelitian biosains.
Kegiatan ini hasil kerja sama antara HSC IPB University dan PT. Genecraft. Kegiatan terbagi menjadi dua sesi, yakni sesi materi yang mendatangkan narasumber dari IPB University, dan sesi praktik yang dipandu oleh narasumber dari PT. Genecraft. Materi meliputi prinsip dan perkembangan teknik PCR, analisis data, desain eksperimental, dan aplikasi real time PCR. Sampel yang digunakan untuk praktik menggunakan real time PCR adalah produk pangan olahan dengan fokus pada deteksi DNA babi untuk mendukung penetapan status halal produk.
Dr. Uus Saepuloh, MBiomed (Pusat Studi Satwa Primata IPB University) dan Dr. agr. Asep Gunawan, SPt, MSc (Fakultas Peternakan IPB University dan peneliti Halal Science Center) menjadi narasumber dalam workshop. Dr. Asep yang juga bertindak sebagai Ketua Pelaksana kegiatan, menyampaikan bahwa kegiatan ini sebagai jalan untuk membentuk jaringan antar unit di IPB, untuk dapat saling bertukar informasi dan saling mengenal. “Bahkan jika nanti ada keterbatasan dalam penelitian dan kegiatan lain dapat dikomunikasikan dan menjadi solusi,” ujar Dr. Asep. (dh/ris)
