Cetak Agen Perubahan, Mahasiswa IPB Bentuk “Kampung Superhero”

Cetak Agen Perubahan, Mahasiswa IPB Bentuk “Kampung Superhero”

cetak-agen-perubahan-mahasiswa-ipb-bentuk-kampung-superhero-news
Berita

Sampah merupakan permasalahan klasik yang seringkali ditemui di Indonesia. Kebiasaan membuang sampah sembarangan hingga pengelolaan sampah yang tidak kunjung mencapai hasil yang prima merupakan permasalahan yang sampai saat ini belum dapat dikendalikan.

Rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia akan kewajiban membuang sampah pada tempatnya masih dapat ditemui di berbagai daerah. Ketiadaan bak sampah masih dapat ditemui di Kampung Nagrak, Desa Jatisari, Bandung, Jawa Barat. Hal tersebut menyebabkan warga setempat membuang sampah sembarangan dan menumpuknya di sudut jalan. Sampah berserakan di jalan adalah pemandangan yang lazim bagi warga setempat. Rendahnya kesadaran untuk hidup bersih dan sehat di lingkungan yang nyaman belum dirasakan oleh warga Kampung Nagrak.

Sekelompok mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang resah melihat kondisi kampung tersebut berinisiatif untuk membuat sebuah program yang bertujuan mengedukasi warga setempat untuk lebih memperhatikan kebersihan lingkungannya. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Masyarakat (PKM-M) 2018, sekelompok mahasiswa ini membuat program yang diberi judul “Kampung Superhero” sebagai Kampung Sigap Tanggap dan Penebar Manfaat di Desa Jatisari, Bandung, Jawa Barat.

Mereka adalah Andre Sandhika, Perdana Raihan Garin Naufaldary, Delia Siti Nur Azizah, Evita Febriana dan Maria Jacklyn. Di bawah bimbingan Febriantina Dewi, SE, MM, M.Sc, Andre dan tim ingin mencetak agen yang mampu membangkitkan semangat masyarakat setempat agar terbiasa hidup bersih dan teratur. Sehingga, masyarakat setempat menjadi pribadi yang sigap tanggap dan menebar manfaat bagi Desa Jatisari, Bandung, Jawa Barat

“Program PKM-M ini kami rancang berdasarkan keresahan yang terjadi di tengah masyarakat khususnya di Kampung Nagrak, Desa Jatisari, Bandung, Jawa Barat RW 7 dan RW 2. Kondisi desa tersebut sangat membutuhkan perhatian dalam berbagai aspek seperti kebersihan personal maupun lingkungannya. Informasi yang kami kumpulkan cukup akurat karena salah satu anggota kelompok kami berasal dari kampung tersebut yaitu Delia Siti Nur Azizah,” ujar salah satu anggota tim, Raihan Garin Naufaldary.

Program yang dilaksanakan di Kampung Nagrak ini dilaksanakan secara bertahap, dimana sekelompok mahasiswa IPB datang ke lokasi tersebut untuk belajar bersama untuk mengatasi permasalahan utama di daerah tersebut yaitu sampah. Terdapat lima program yang dilakukan oleh tim ini yang diberi nama pahlawan super Amerika. Pahlawan super tersebut muncul dalam karakter publikasi Marvel Comics dan DC Comics (Detective Comics) yaitu Iron-manAnt-Man, Batman, dan Groot.

“Program yang kami laksanakan berkaitan satu sama lain. Program yang pertama kali dilaksanakan yaitu Iron-man. Program tersebut bertujuan untuk membentuk tim Ant-man, Batman, dan Groot beserta ketua timnya. Harapannya tim tersebut dapat menjadi agen yang sigap dan tanggap terhadap permasalahan lingkungan. Selain itu, ketiga tim tersebut harus turut andil untuk melanjutkan program-program yang sudah dijalankan oleh tim mahasiswa dalam jangka panjang,” ujarnya.

Sementara itu, program Ant-man yaitu membiasakan hidup bergotong-royong masyarakat setempat dan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk menjaga lingkungan. Program selanjutnya dinamai dengan Batman. Masyarakat setempat diajak untuk belajar membuat tempat sampah anorganik yang dibuat bersama-sama atau gotong royong. Tempat sampah ini kami sediakan di beberapa sudut sehingga masyarakat dapat membudayakan untuk membuang sampah pada tempatnya. 

Harapannya dengan adanya bimbingan membuat bak sampah anorganik ini, masyarakat setempat memiliki modal untuk membuat bak sampah organik secara mandiri. Selain pembuatan tempat sampah, luaran yang dihasilkan dari program batman yaitu terciptanya bank sampah.

“Selanjutnya, Groot sebagai manusia pohon dalam Marvel Comics digunakan sebagai program ketiga tim kami yaitu membuat tanaman vertikultur dan membuat pupuk organik secara mandiri. Kami berbagi ilmu langsung dengan warga setempat untuk menanam di ruang sempit dengan memanfaatkan bidang vertikal. Selain itu, kami juga mengedukasi masyarakat tentang tata cara bercocok tanam yang benar dan tata cara membuat pupuk organik,” terangnya.

Pembuatan bak sampah pada program Batman dibuat unik yaitu menyerupai ring basket. Hal tersebut dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat agar membuang sampah pada tempatnya, terutama pada anak-anak.

“Budaya membuang sampah pada tempatnya harus diterapkan sedini mungkin. Sehingga, kami membuat bak sampah yang dapat membuat masyarakat memiliki keasyikantersendiri saat membuang sampah pada tempatnya. Bank sampah yang diciptakan pada program ini dikoordinir langsung oleh ketua tim Batman,” imbuhnya.

Tugas dari tim Batman yang terdiri dari warga setempat yaitu memilah sampah organik dan anorganik serta mencatat siapa saja warga yang menyetor sampah botol plastik untuklangsung ditukar dengan sebesar nominal tertentu atau ditabung hingga nominal tersebut terakumulasi cukup besar, terang Evita Febriana.

Program yang dilaksanakan disesuaikan dengan kondisi desa seperti permasalahan lingkungan Kampung Nagrak yang sangat kompleks. Mulai dari kesadaran masyarakat yang masih rendah untuk menjaga kebersihan lingkungan dan stakeholder desa yang masih memerlukan edukasi yang bisa meningkatkan rasa kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

“Stakeholder mendorong kami untuk terus mengedukasi masyarakat agar senantiasa membiasakan hidup bersih dan sehat. Misalnya membuang sampah pada tempatnya dan membudayakan kebiasaan hidup bergotong-royong. Masyarakat setempat pun juga dengan senang hati menerima kedatangan kami dan bekerja sama dengan baik,” jelas salah satu anggota tim, Raihan Garin Naufaldary. (AD/Zul).