Bentang Asa Foundation IPB Bantu Siswa Lingkar Kampus Lanjutkan Sekolah
Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui Kementerian Sosial dan Pengembangan Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (Sospemas BEM KM IPB) 2017 membentuk sebuah wadah filantropi yang bergerak dalam bidang pendidikan yaitu Bentang Asa Foundation (BAF). Bentang Asa bersifat non profit, terbuka, profesional, religius, dan kebersamaan.
Sebanyak 14 siswa menerima beasiswa BAF. Mereka merupakan siswa pilihan dengan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya dan berasal dari Sekolah Dasar (SD) di sekitar kampus IPB. Seleksi yang dilakukan antara lain berupa seleksi rapot (masuk dalam 10 peringkat terbaik kelas 5 SD di sekolahnya), keadaan ekonomi keluarga, serta wawancara sekaligus survei langsung ke rumah masing-masing calon beswan. Pemilihan siswa kelas 5 SD sebagai calon beswan telah berdasarkan hasil survei kami sebelumnya, dimana rata-rata angka rentan putus sekolah sering terjadi pada siswa kelas 5 SD.
“Latar belakang berdirinya BAF yaitu tingginya angka putus sekolah di Indonesia, khususnya di wilayah Bogor dan juga masih ditemukan angka putus sekolah di lingkar kampus IPB. Target utama BAF adalah anak-anak di sekitar kampus. Gerakan ini terinspirasi dari salah satu quote Bapak Anis Baswedan “Mendidik adalah tugas orang-orang terdidik”.
“Kami ingin mengajak mahasiswa IPB untuk turut peduli terhadap pendidikan anak-anak di sekitar kampus. Kami sadar tidak semua mahasiswa punya waktu luang untuk ikut serta mengajar, tapi mahasiswa tetap dapat ikut berpartisipasi dengan cara materil,” ucap Rahardian Okta selaku Menteri Sospemas Bem KM IPB 2017.
“Bentang Asa juga berkolaborasi dengan beberapa stakeholder untuk memberikan akses serta fasilitas berupa penyaluran donasi pendidikan dan pengadaan programself improvement bagi siswa-siswi penerus bangsa, “ jelasnya.
Beasiswa yang diberikan tidak selalu berupa uang. Penerima beasiswa mendapat bantuan perlengkapan kebutuhan sekolah, pelatihan (bimbingan hafalan Al-Qur’an dan Camp BAF) dan pengarahan, baik itu untuk para beswan dan orang tua beswan itu sendiri.
“Perubahan yang terlihat dari penerima beasiswa yaitu pertama hafalannya bertambah, bahkan ada yang hafal juz 30 dalam waktu 6 bulan pembinaan. Awalnya malu-malu tapi sekarang bisa lebih percaya diri. Banyak dari penerima beasiswa yang ketika awal ditanya cita-citanya mereka hanya menjawab menjadi tukang angkot. Namun ketika ditanyakan di akhir wisuda, cita-cita mereka semakin bervariasi. Mereka juga lebih bersemangat meraih cita-cita,” jelas Rahardian Okta.
Ia berharap penerima beasiswa dapat melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Yang lebih jauh lagi bisa berdampak lebih besar bersama komunitas dan ormawa yang ada di IPB. Dan jumlah beswan lebih banyak. (RJ/Zul)
