Pupuk Hayati Pacu Pertumbuhan Sengon

Pupuk Hayati Pacu Pertumbuhan Sengon

Berita
Penanaman pohon yang cepat tumbuh (fast growing species) akan sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan kayu. Salah satu jenis pohon potensial tersebut ialah sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen). Pohon yang masuk dalam famili Mimosaceae ini memiliki masa tunggu panen cukup singkat. 
 
Kayu sengon sering digunakan sebagai  bahan baku kayu olahan seperti papan peti, papan penyekat, industri korek api, pensil, dan kertas. Pohon sengon juga sering digunakan sebagai tanaman peneduh di perkebunan.
 
Pada bagian akar pohon sengon, kita sering menjumpai bintil-bintil kecil. Bintil ini berisi bakteri yang menangkap gas nitrogen di udara untuk dimanfaatkan pertumbuhan tanaman. Bakteri bintil akar ini berasal dari kelompok bakteri Rhizobia atau Burkholderia. Bakteri inilah yang dipercaya dapat memacu pertumbuhan tanaman pada pohon sengon. Bakteri ini menghasilkan hormon auksin (indole acetic acid) eksogen yang dapat memacu pertumbuhan tanaman
 
Ini menjadi inspirasi Dr. Nisa Rachmania Mubarik, M.Si dan Muhammad Afnansyah, S.Si, peneliti  Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor (FMIPA-IPB), untuk membuat inovasi berupa pupuk hayati dalam pembibitan tanaman sengon dari  Burkholderia. 
 
”Sampai saat ini inokulan pupuk hayati untuk penanaman semai sengon belum banyak diteliti dan belum tersedia di pasar. Untuk itu, kami melakukan upaya untuk mengurangi penggunaan pupuk kimiawi dalam pembibitan tanaman sengon, yakni dengan menggunakan bakteri penambat bintil akar dan pemacu pertumbuhan tanaman,” ujar Dr. Nisa.
 
Bakteri Burkholderia cepacia L6.5 yang digunakan merupakan bakteri yang berhasil diisolasi dari  tanah Hutan Gunung Walat Bogor. Saat diaplikasikan pada penyemaian sengon di tanah ultisol dengan pH 4,7, inovasi ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan pupuk kimiawi atau Nitrogen Phosphat Kalium (NPK). Keunggulan tersebut diantaranya ramah lingkungan karena tidak meninggalkan residu bahan kimia yang mencemari lingkungan, dapat meningkatkan produktivitas tanaman sengon di lahan marginal, jumlah akar lateral, panjang akar, dan jumlah cabang.
 
Keunggulan lainnya inovasi ini dapat diaplikasikan pada pembibitan/penyemaian tanaman famili momosa dan legum berkayu. Produk inovasi berupa formula bakteri Burkholderia cepacia asal tanah ini belum diproduksi secara komersial sehingga belum ada pesaing potensial di pasar. Formula bakteri ini juga dapat menghasilkan hormon pemacu pertumbuhan (índole acetic acid) yang efektif dalam meningkatkan pertumbuhan akar lateral tanaman sengon.
 
“Karena memiliki banyak keunggulan, penelitian ini masuk dalam 105 Inovasi Indonesia Paling Prospektif 2013 yang dikeluarkan Business Innovation Center,” ujarnya. (Zul)