Prof. Ani Mardiastuti: Burung Sebagai Bio Indikator Kerusakan Hutan dan Lingkungan
Burung bisa menjadi indikator kesehatan yang baik. Karena burung bisa tinggal di banyak habitat, mulai dari hutan belantara sampai perkotaan. Burung juga bisa tinggal di berbagai tipe habitat, seperti danau dan sawah. Jenis hewan ini menjadi indikator yang baik karena mudah dilihat, didengar dan diidentifikasi.
Untuk mengetahui kualitas satu areal persawahan misalnya, tercemar atau tidak, kita bisa dengan mudah mengetahuinya. Caranya dengan mengambil sampel satu burung yang ada di sana, lalu dilihat kandungan lemak di dadanya. Jika tidak terdapat pestisida, maka sawah tersebut bagus. Namun sebalikya, jika terdapat pestisida, sawah tersebut berkualitas jelek. Hal ini terjadi karena burung memakan ikan dan invertebrate yang berada di habitat persawahan.
Dengan demikian, jika yang dimakan oleh kita sama dengan yang dimakan oleh burung, maka sama pula kualitas organ tubuh kita dengan burung tadi. Demikian dikatakan staf pendidik pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB, Prof.Dr.Ir. Ani Mardiastuti, M.Sc., di IPB Baranangsiang, Senin (24/5).
Mengidentifikasi burung berasal dari mana, juga mudah dilakukan. Satu contoh, ketika mahasiswa Prof Ani menemukan Burung Rangkong, maka dapat dipastikan burung tersebut berasal dari hutan yang bagus. Pasalnya, burung ini hanya tinggal di pohon-pohon yang besar atau di lubang-lubang pohon. Kondisi hutan seperti ini sangat tidak mungkin diperoleh di perkotaan.
Namun di perkotaan ada juga burung yang bisa dijadikan indikator bagus tidaknya sebuah kawasan, misalnya dengan burung pelatuk. Jika di sebuah hutan atau habitat terdapat burung pelatuk, maka bisa dikatakan kawasan tersebut cukup bagus, karena burung ini hanya tinggal di pohon-pohon tua.
Di kampus IPB Darmaga Bogor, kata Prof Ani, terdapat sekitar 60 hingga 70 jenis burung. Ini artinya, kondisi lingkungan atau hutan di kawasan ini masih relatif baik. Untuk di Kota Bogor, Kebun Raya Bogor memberikan sumbangan yang signifikan bagi perlindungan burung.
Prof Ani mengatakan, Indonesia masuk rangking 2 yang memiliki banyak spesies burung, setelah negara Brazil. Penilaian internasional ini dikeluarkan oleh Bird Life International. Prof Ani menambahkan bahwa kelompok burung ini juga sangat berguna bagi kehidupan kita, misalnya melalui budidaya jenis-jenis tertentu untuk dijadikan unggas (ayam, itik, burung puyuh). Perlu diingat bahwa unggas adalah juga tergolong ‘burung’ (aves). ***
