Ketahanan Tanaman Cabai Terhadap Cendawan
Salah satu penyakit yang dominan pada pertanaman cabai adalah hawar phytophthora yang disebabkan Phytophthora capsici. Cendawan P. Capsici mengganggu cabai pada setiap fase dan bagian tanaman. Gangguan pada fase bibit dapat menyebabkan kematian. Pada tanaman dewasa gangguan cendawan ini menyebabkan gejala busuk akar, kanker batang, hawar daun dan busuk buah.
Phytophthora capsici tidak hanya menyebar dan menimbulkan permasalahan pada tanaman cabai di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Dilaporkan, kehilangan hasil akibat gangguan P. Capsici di Turki mencapai lebih dari 40 persen, di Mexico mencapa 60-100 persen. Sementara di Indonesia, gangguan cendawan ini telah menghancurkan lebih dari 60 persen areal pertanaman cabai petani di Tegal
Rahmi Yunianti, mahasiswa S-3 Institut Pertanian Bogor (IPB), mengungkapkan hal itu saat mempresentasikan disertasinya yang berjudul "Analisis genetik pewarisan sifat ketahanan cabai (capsicum annuum L.) terhadap penyakit hawar phytophthora dan arah pengembangan varietasnya", Kamis (19/7) bertempat di Ruang Sidang Senat Akademik Gedung Rektorat Kampus IPB Darmaga.
Disertasi Rahmi di bawah komisi pembimbing yang diketuai Prof.Dr.Ir. Sarsidi Sastrosumarjo, M.Sc., dengan anggota Dr.Ir. Sriani Sujiprihati, MS., Dr.Ir. Sri Hendrastuti Hidayat, M.Sc., dan Dr.Ir. Memen Surahman, M.Sc.
Sementara, bertindak sebagai penguji luar komisi yaitu Dr.Ir. Dyah Manohara, peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Departemen Pertanian Cimanggu Bogor, dan Dr.Ir. Hajrial Aswidinnoor, M.Sc., staf pengajar pada Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB.
Dalam disertasinya, Rahmi mengatakan, telah banyak cara budidaya ynag direkomendasikan untuk mengendalikan penyakit ini, antara lain menghindari penanaman pada areal yang memiliki riwayat terinfestasi P. capsici, perbaikan sistem irigasi dan drainase, rotasi dengan tanaman yang tidak rentan, dan aplikasi fungisida. Namun, tidak satu pun metode tersebut yang efektif, praktis, ekonomis dan aman dalam mengendalikan P. capsici.
"Salah satu cara terbaik untuk melindungi tanaman cabai dari epidemik P. capsici adalah dengan merakit varietas cabai resisten melalui program pemuliaan tanaman. Agar bernilai komersial, karakter ketahanan tersebut harus bertahan lama dan tidak mudah dipatahkan oleh patogen," urai Rahmi saat menyebutkan hasil penelitiannya.
Disebutkan, koleksi dan seleksi plasma nutfah cabai merupakan tahap awal program pemuliaan untuk mengidentifikasi plasma nutfah yang memiliki gen ketahanan terhadap P. capsici. Setelah diperoleh tetua donor yang resisten, langkah selanjutnya adalah melakukan hibridasi untuk memasukkan karakter resisten tersebut ke tetua recurrent (komersial, berdaya hasil tinggi).
Dalam rangka menentukan strategi intogresi yang efektif, diperlukan informasi kendali genetik ketahanan terhadap P. capsici pada tetua donor. Karena itu sebelumnya perlu dilakukan studi tentang kendali genetik pewarisan karakter ketahanan tersebut dengan mengamati fenotipe populasi bersegregasi hasil hibridasi antara tetua tahan dan tetua rentan dan atau populasi kawin acak. (nm)
