Para Pakar Reproduksi Hewan Bicara Swasembada Pangan Nasional
Menteri Pertanian RI Dr.Ir. Suswono, MMA., memberikan apresiasi yang tinggi kepada para pakar iptek, khususnya di bidang reproduksi hewan. Menurutnya, peran reproduksi dalam pencapaian Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau tahun 2014 dalam penanggulangan penyakit hewan sangat nyata.
Berbagai peran penting tersebut antara lain dalam hal penyakit infeksi dan non infeksi serta gangguan reproduksi lain yang berdampak pada rendahnya service per conception (S/C), panjangnya calving interval (CI), serta rendahnya angka kelahiran dan kemajiran. Sedangkan gangguan reproduksi non infeksius termasuk gangguan hormonal, gangguan metabolisme dan lain-lain.
“Peran penting bidang reproduksi tersebut akan lebih nyata lagi, apabila dikaitkan dengan pelaksanaan Inseminasi Buatan, Intensifikasi Kawin Alam dan Transfer Embrio,” ujar Mentan saat menjadi Keynote Speaker pada Seminar Nasional “Peranan Teknologi Reproduksi Hewan Dalam Rangka Swasembada Pangan Nasional” yang digelar oleh Mayor Biologi Reproduksi Sekolah Pascasarjana IPB bekerjasama dengan Bagian Reproduksi dan Kebidanan Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB di Gedung Manajemen Bisnis (MB) IPB, Rabu (6/10).
Mentan melanjutkan, Program Swasembada Daging Sapi menjadi salah satu prioritas penting Kementerian Pertanian, dengan alasan bahwa sebagian besar Rumah Tangga Peternakan yaitu 4,6 juta bergerak dalam usaha tani ternak potong. Jumlah rumah tangga tersebut tersebar merata di seluruh Indonesia, terutama di sentra-sentra utama peternakan sapi potong di Indonesia bagian timur. Dengan demikian, keberhasilan Swasembada Daging Sapi memiliki arti penting dalam mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.
“Untuk itu, pemikiran tentang perlunya swasembada daging sapi tidak saja hanya berdasarkan analisa supply-demand, tetapi juga sebagai dukungan kepada upaya penyelamatan 4,6 juta rumah tangga sapi potong,” papar Mentan.
Acara yang dibuka secara resmi oleh Rektor IPB Prof.Dr.Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc., tersebut diikuti oleh sejumlah stakeholder, diantaranya para Kepala Dinas Peternakan maupun Kepala Dinas Pertanian, swasta, dan para pakar reproduksi hewan. Dalam kesempatan ini juga digagas pembentukan Asosiasi Reproduksi Hewan Indonesia, sebagai wadah aspirasi para pakar di bidang reproduksi hewan.
Rektor dalam sambutannya mengatakan selama ini pemenuhan daging nasional selalu melalui produk import . Karena itu, imbuhnya, kita perlu mengembangkan gagasan inovatif untuk dapat menyediakan sapi lokal. “Jika tidak ada terobosan yang kita lakukan, lama-lama kita bisa tergantung pada import yang sesungguhnya dapat menguras devisa negara,” ujar Rektor.
Dalam kesempatan ini hadir pembicara tamu dari Yamaguchi University Japan, Prof.Dr. Takesige Otoi, yang menyampaikan makalah bertajuk “The Role of the Assisted Reproductive Technology on Beef Cattle Production in Japan”. Prof Otoi panel bersama Prof.Dr.drh. Iman Supriatna, Ketua Mayor Pascasarjana Biologi Reproduksi IPB dengan makalah “Penerapan Teknologi Reproduksi pada Ternak di Indonesia”.
Seminar juga menghadirkan pembicara Ir. Budi HR dari PT. Lembu Jantan Perkasa, drh. Maidaswar, M.Si dan Lina Widyawati, SPt, M.Si dari Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang, dan drh. R. Kurnia Achyadi, MS., Bagian Reproduksi dan Kebidanan Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Sementara pembicara daerah adalah Kepala Dinas Peternakan Provinsi Riau, drh. Askardiya R. Patrianov, MM., Kepala Dinas Peternakan Provinsi Nusa Tenggara Timur Ir. Ansgerius Takalapeta, dan Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat Ir.H. Koesmayadie TP. Semua pembicara daerah ini berbicara mengenai potensi dan permasalahan reproduksi ternak di daerahnya masing-masing. (nm)
