JK: Riset Indonesia Masih Lemah

JK: Riset Indonesia Masih Lemah

Berita

Dies FEM Ke 9, “The International Competitiveness of Indonesia’s Organizations In The Dynamic Global Environment”

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan  riset yang ada di Indonesia masih lemah yang mengakibatkan terhambatnya peningkatan daya saing di pasar internasional.

Begitu dipaparkannya saat menjadi keynote speech pada Seminar dan Workshop Nasional dalam rangka Dies Natalis FEM ke 9. Kegiatan yang digelar oleh Departmen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB ini mengangkat tema “The International Competitiveness of Indonesia’s Organizations In The Dynamic Global Environment,” digelar di IPB Internatioanl Convention Center (IICC), Bogor (16-17/6).

“Saya kecewa ketika mengunjungi pusat-pusat penelitian di beberapa daerah di Indonesia. Ada pusat penelitian yang saya lihat, terakhir kali melakukan penelitian di laboratoriumnya enam bulan lalu. Selain itu juga ada pusat penelitian yang tidak pernah memfungsikan mesin yang dimilikinya dan itu bisa dilihat dari tebalnya debu yang menempel pada mesin itu," kata Kalla.

Menurutnya, seharusnya Pusat penelitian jangan hanya jadi museum. Karena menurutnya pusat penelitian harus berpikir ke depan yang berbeda dengan museum yang berpikirnya ke belakang,

“Bagaimana daya saing kita bisa meningkat kalau kondisinya seperti ini," tanyanya.

Kalla mengatakan , tidak ada alasan untuk mengatakan pertanian di negeri ini sulit maju karena Indonesia memiliki sumberdaya alam yang melimpah.

“Tuhan telah memberi kita secara gratis matahari, air dan hujan yang semuanya ini tidak dimiliki oleh Negara lain. Namun, kelebihan ini tidak diimbangi dengan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengembangkannya,” tandasnya.

Menurutnya, daya saing itu  diukur dari tiga hal yaitu mencari yang lebih baik, lebih murah dan lebih cepat.

Menanggapi kurangnya keterkaitan antara hasil riset dan pengguna, ia mengatakan, sebaiknya tidak harus memengikuti birokrasi di negeri ini yang dikenal lambat.
"Jangan selalu menyalahkan sistem, kesalahan bukan hanya ada di system birokrasi. Kalau birokrasi lambat, tinggalkan saja," katanya.

Ia mencontohkan Filipina yang berhasil mengekspor buah mangga hingga ke AS dan Jepang, karena mampu memenuhi permintaan pasar.

"Mangga yang diekspor Filipina itu rasanya tidak terlalu manis, namun justru itu yang diinginkan oleh pasar. Sementara mangga Indonesia rasanya terlalu manis," katanya.

Oleh karena itu Kalla mengatakan, produsen harus tahu selera pasar, dan jangan terlalu memaksakan selera sendiri, dan itu kembali ke riset.

Untuk menghubungkan antara riset dan pengguna, ia menyarankan IPB untuk mengumpulkan eksportir, pemasok, hingga pedagang kecil, untuk mencari tahu keinginan  pasar baik internasional maupun domestik. (man)