Setnet dan Atraktor Cumi-cumi, Teknologi Tepat Guna untuk Meningkatkan Kesejahteraan Nelayan

Setnet dan Atraktor Cumi-cumi, Teknologi Tepat Guna untuk Meningkatkan Kesejahteraan Nelayan

Berita

Setnet merupakan teknologi tepat guna karya Prof.  Mulyono S Baskoro dari Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan IPB sebagai alat penangkapan ikan berupa perangkap. Setnet dipasang secara menetap pada suatu perairan dengan satu leadernet yang fungsinya menghadang gerakan ikan dan menuntun ikan masuk ke badan jaring atau daerah perangkap.
 
Kelebihan teknologi Setnet dibandingkan dengan teknologi penangkapan ikan yang lain, menurut Prof. Mulyono, adalah sangat efisien dengan tingkat produktivitas yang baik. Setnet dinilai sangat ekonomis, tahan lama, mudah dalam pengoperasian, hasil tangkapan dalam keadaan hidup, dan dapat dipadukan dengan pengembangan marine qulture, ramah lingkungan, selain bersifat pasif juga selektif menangkap species yang melakukan migrasi.
 
Prof Mulyono menambahkan, Setnet dapat dikembangkan untuk menjaga keutuhan wilayah kesatuan NKRI karena dapat dipasang pada pulau-pulau kecil atau tak berpenghuni, dan dapat dikembangkan dalam menumbuhkan kelompok-kelompok usaha bersama nelayan (KUB/koperasi).
 
“Dengan demikian Setnet dapat membantu pemerintah dalam program pemberdayaan masyarakat pesisir untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan,” terang Pof Mulyono dalam Orasi Ilmiahnya, Sabtu (19/11) di Grha Widya Wisuda Kampus IPB Dramaga Bogor.
 
Prof. Mulyono menyampaikan Teknologi Setnet telah banyak dimanfaatkan di daerah-daerah perikanan. Misalnya pada tahun 2006, IPB bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Ditjen Tangkap) Jakarta, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Raja Ampat Irian Jaya Barat, Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan Semarang, PT Sorong Mina Raya untuk melakukan pengembangan Setnet di Propinsi Papua Barat.
 
Dari hasil kerjasama tersebut, Prof. Mulyono mengatakan, nelayan setempat dapat membuat Setnet dan  berhasil dipasang pada kedalaman 40-50m. Hasil pemasangan Setnet telah berhasil memperoleh tangkapan sekitar 300 Kg sampai 1 ton untuk setiap hari pengangkatan kantong Setnet. 
 
Alih teknologi setnet dapat diserap dengan baik oleh nelayan setempat, meskipun masih ada beberapa kendala yang masih harus terus dicarikan pemecahannya, misalnya seperti perawatan badan jaring terhadap bio-fouling, arus, gelombang dan pencurian.
 
Selain teknologi setnet, Prof. Mulyono juga menyampaikan hasil temuannya terkait teknologi untuk pengkayaan sumberdaya cumi-cumi atau dikenal dengan  Atraktor Cumi-cumi dalam upaya pengelolaan perikanan pantai berkelanjutan.  Atraktor cumi-cumi berfungsi sebagai tempat cumi-cumi melepaskan telurnya, lalu telur-telur tersebut menempel pada atraktor sampai akhirnya menetas.
 
Pengembangan sarana atraktor dimaksudkan untuk membantu masyarakat dalam melakukan efisiensi usaha, pengembangan mata pencaharian alternatif dan juga untuk pengkayaan sumberdaya cumi-cumi dengan cara alami. Disamping itu, Atraktor Cumi-cumi mudah dalam pembuatannya, tidak memerlukan peralatan yang khusus dan juga tidak mahal.
 
Di Indonesia Atraktor Cumi-cumi dibuat dengan konstruksi yang sangat sederhana, berbentuk seperti bunga dengan diameter 120-130 cm dan tinggi 35-40 cm.  Dibuat dari bahan kawat harmonika yang dilengkapi dengan untaian tali tambang dan pada bagian atasnya ditutupi dengan lembaran plastik hitam.
 
Untaian tali-tali tambang yang dipasang pada bagian dalam atraktor berfungsi sebagai tempat cumi-cumi menempelkan telurnya.  Lembaran plastik hitam pada bagian atas atraktor dimaksudkan untuk mengurangi intensitas cahaya matahari yang datang pada bagian dimana cumi-cumi akan melepaskan telurnya dan sekaligus sebagai pelindung.  Pemasangan atraktor di dalam perairan dilakukan dengan sistem rangkaian yang panjang, di mana satu unit dapat terdiri sepuluh atraktor dengan jarak antar atraktor 5 m.
 
Manfaat dari atraktor cumi-cumi ini antara lain: sebagai alat pengumpul cumi-cumi;  dapat mengembangkan ekosistem dan daerah penangkapan; menciptakan kawasan ekowisata pantai; rehabilitasi ekosistem terumbu karang; dan mengembangkan ekonomi nelayan.
 
Dari tahun 2006 hingga tahun 2011, telah dilakukan pelatihan, pembuatan dan pemasangan Atraktor Cumi-cumi di 24 Kabupaten di Indonesia.  Masyarakat nelayan di Pulau Dabi Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan telah merasakan manfaat dari pemasangan Atraktor Cumi-cumi ini. Hasil pancing mereka meningkat dari yang biasanya 1-3Kg per hari, setelah adanya Atraktor Cumi-cumi hasil pancingan mereka menjadi 5-10Kg per hari. (ddh)