PSW IPB Gelar Pelatihan Responsif Gender

PSW IPB Gelar Pelatihan Responsif Gender

Berita

Keikutsertaan 50 orang  kaum adam dalam “Pelatihan Tingkat Dasar Metodologi Penelitian Kebijakan Pembangunan Responsif Gender”, Sabtu (9/10)  direspon positif. “Ini menunjukkan adanya keseimbangan antara laki-laki dan perempuan,” ujar Ketua Panitia Penyelenggara Dr. Titik Sumarti, MS., yang disambut tepuk tangan yang hadir.

Jumlah keseluruhan partisipan pada pelatihan ini adalah `140 orang. Mereka berasal dari sejumlah  perguruan tinggi  dan para penyuluh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota dan Kabupaten Bogor. Peserta dari IPB sendiri adalah para mahasiswa S1 semester VII dan mahasiswa pascasarjana. Mereka ini diharapkan dapat memperkuat sumberdaya manusia (SDM) di Program Studi Wanita (PSW) Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB.

Kegiatan yang mengambil tempat di Auditorium Sylva Fakultas Kehutanan IPB ini merupakan kerjasama PSW IPB, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Kementerian Pendidikan Nasional RI, dan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) SKPD Kota dan Kabupaten Bogor.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari program revitalisasi PSW IPB, dalam rangka penguatan kapasitas PSW di Indonesia. Hal ini sesuai pula dengan amanat Kementerian Pemberdayaan Perempuan agar PSW diperkuat guna mencapai MDGs 2012. Oleh karena itu, kita semua bergerak,” terang Dr. Titik yang juga Ketua PSW IPB.

Lebih lanjut Dr. Titik mengatakan, kesetaraan dan keadilan gender bisa tercapai jika adanya saling menghargai, saling mengisi dan saling membantu antara laki-laki dan perempuan.

Sementara itu, Sekretaris LPPM IPB Dr. Sulistiono dalam sambutannya mengatakan, perempuan adalah garda terdepan dalam mendidik dan membesarkan putra-putrinya. Bagi Dr. Sulistiono, perempuan adalah orang yang pertama kali inisiatif mencari makan untuk anak-anaknya, inisiatif untuk menyekolahkan anaknya, hingga inisiatif mengobati anaknya manakala sakit. “Salah bagi kita, jika peran-peran tersebut dimarginalkan,” kata Dr. Sulistiono, seraya berharap melalui pelatihan ini sumberdaya perempuan bisa dikedepankan. (nm)