Oleh-oleh dari “Seminar on “Impact of High International Commodity Prices: Evidence, Challenges and Opportunitiesâ€
Departemen Ilmu Ekonomi – Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB mengadakan seminar yang bertajuk “Impact of High International Commodity Prices: Evidence, Challenges and Opportunities” (10/6), Bertempat di Hotel Borobudur, Jakarta. Kegiatan ini bekerjasama dengan pemerintah Republik Indonesia dan World Bank. Rektor IPB, Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, M.Sc berkesempatan membuka acara.
Menurut Dr. Joachim von Amsberg banyak kalangan sangat khawatir akan dampak buruk dari kenaikan harga komoditas, akan tetapi bagi negara kaya sumber daya alam seperti Indonesia, kenaikan harga komoditas menjadi peluang besar untuk meningkatkan investasi dan mengentaskan kemiskinan. “Namun karena para petani Indonesia kini menghadapi masalah perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya alam –diatas masalah kenaikan harga- maka menjadi sangat penting bagi Indonesia untuk berinvestasi pada upaya-upaya yang dapat meningkatkan produktivitas pertanian secara lebih efektif dan efisien,” ujar Country Director, World Bank ini dalam sambutannya.
Hal ini diperkuat oleh Menteri Perdagangan Mari E. Pangestu ketika menyampaikan keynote address, ”Seluruh pembuat kebijakan mulai memperhatikan isu pangan, energi serta perubahan iklim, peningkatan permintaan biofuel yang tinggi didukung oleh peningkatan populasi manusia menyebabkan terjadinya krisis. Perlu adanya kebijakan nasional dan global untuk menangani masalah ini, ” paparnya.
Menurut Menteri Perdagangan, keberadaan Raskin akan tetap dipertahankan. “Kedelai akan distop subsidinya, kecuali untuk pengrajin tahu-tempe, subsidi harga untuk kedelai dan padi lokal untuk petani akan dipertahankan, ini sesuai dengan program tahun 2008 untuk tahun selanjutnya kita lihat saja nantim, ” imbuhnya “Harga komoditas tinggi merupakan peluang bagi Indonesia sebagai pemain besar dalam kancah produksi dan ekspor komoditas. Pada kuartal pertama tahun ini saja, kita sudah mencetak pertumbuhan ekspor sebesar 25% serta pertumbuhan produksi pertanian sebesar 6%, “ kata Dr. Bayu Krisnamurthi,. “Tantangan sekarang bagi pemerintah dan sektor swasta adalah untuk meningkatkan produktivitas pertanian lebih jauh lagi. Kita membutuhkan input-input dan praktek-praktek yang lebih baik guna meningkatkan produksi beras agar lebih menguntungkan bagi para produsennya, serta memasok sembako dengan harga terjangkau bagi para konsumen,” ungkap Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan ini. Evidence : Increasing Prices Pose Challenges and Open Opportunities
Pada sesi diskusi pertama yang menghadirkan pemateri Dr. Dominique Van Der Mensbrugghe (Lead Economist, World Bank), Dr. Rina Oktaviani (Ketua Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB), Dr. Enrique Aldaz – Carroll (Economist, World Bank), Dr. Guntur Sugiyarto (Economist, Asian Development Bank) dan Dr. Muhammad Chatib Basri (Direktur LPEM Universitas Indonesia) sebagai komentator. Diskusi ini dimoderatori oleh Dr. William Wallace (Lead Economist, World Bank).
Dominique dalam paparannya menyebutkan, harga komoditas energi, pertanian, pupuk dan mineral telah mencapai puncaknya pada 2008. Selanjutnya, harga-harga itu akan bergerak turun meski tetap tinggi. Seperti untuk harga komoditas energi, akan mulai menurun pada 2009 dan akan stagnan mulai 2015. Namun harga 'stagnan' ini masih dua kali lipat harga pada tahun 2000.
Menurut Dr. Rina Oktaviani, kenaikan harga produk pertanian internasional dan barang tambang (minerals) akan meningkatkan konsumsi real karena pengaruh negatif kenaikan harga minyak. Dengan hanya meningkatkan harga barang tambang tidak cukup sebagai kompensasi efek kenaikan harga minyak. Dibutuhkan sesuatu yang lebih baik untuk mencukupi permintaan, BLT baik tapi dibutuhkan kebijakan yang komprehensif untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi. Carroll, menitik beratkan penjelasan pada harga barang yang antar satu tempat diwilayah suatu negara berbeda-beda, dia mencontohkan harga beras di Jakarta yang cenderung cepat mengikuti perubahan harga di Internasional dibanding propinsi lain di contohnya Kalimantan Barat. Menurutnya perbedaan harga beras ini di sebabkan oleh faktor jarak (dalam hal ini transpotasi pendistribusian beras), infrastruktur, kepadatan populasi, pendapatan masyarakat, dan produksi beras suatu provinsi. Dalam pemaparannya Dr. Guntur Sugiyarto, lebih banyak mengkritisi efektifitas kebijakan pemerintah yang lebih mengandalkan BLT, Raskin dan sejenisnya dibanding membangun pertanian secara menyeluruh. Policy Responses to High Commodity Prices
Menurut Dr. Endah Murniningtyas, “Kebijakan untuk masa mendatang perlu diarahkan kepada diversifikasi pangan dan penjangkauan terhadap orang miskin.” Kebijakan diversifikasi pangan meliputi diversifikasi secara horizontal, vertical dengan diikuti kebijakan dan implementasi di daerah. Dr. Sjamju Rahardja dari World Bank, Jakarta, mengomentari peran Bulog yang harus berimbang dan menjaga agar penimbunan barang tidak terjadi, apalagi sampai terjadi kartel harga kepada konsumen.
Pada sesi kedua ini juga menghadirkan Dr. Erwidodo (Kepala Balitbang Perdagangan Depdag) sebagai komentator. Diskusi dipandu oleh Dr. Muhammad Firdaus (Pusat Kajian Buah-buahan Tropika IPB).
Increasing The Agricultural Sector’s Response to The High Commodity Prices Di akhir diskusi Dr. Arief Daryanto (Direktur Program Pascasarjana Manajemen Bisnis IPB) menyampaikan topik tentang Pembangunan Pedesaan dan Pertanian. Dr. Shobha Shetty, Senior Economist dari World Bank Jakarta menyampaikan bahwa tingkat investasi di bidang penelitian dan peningkatan panen dapat dinaikkan sekitar 0,47% per tahun. Peningkatan di pulau Jawa diperkirakan mencapai 0,61% dan 1,2 % di tempat lainnya dan ini akan diikuti oleh keseimbangan beras pada tahun 2020.
Diperlukan alokasi kembali dari arus subsidi peningkatan produksi urea dan mengimpor Potasium Klorida untk membangun industri pupuk NPK dan untuk penjualan langsung akan menghasilkan keuntungan yang signifikan. Pendanaan penelitian di bidang pertanian juga diperlukan sebagai dasar membangun ekonomi. Pendanaan penelitian dari hasil kerjasama dengan sektor privat dan industri harus diaktifkan dalam pengawasan badan penelitian nasional. Memfungsikan kembali penelitian dan proses outreach merupakan sesuatu yang vital untuk meningkatkan Yield seperti yang kita lihat di Vietnam.
Senada dengan apa yang diungkapkan Menteri Pertanian, Dr. Anton Apriyantono “Harga komoditas pertanian yang meningkat seharusnya menjadi daya tarik bagi investor untuk mengembangkan investasinya di dalam negeri,” ungkapnya ketika menutup seminar. "Bagi investor seharusnya faktor harga komoditas pertanian yang tinggi serta permintaan yang meningkat menjadi insentif tersendiri, meskipun pemerintah akan memberikan insentif lain agar investor menjadi nyaman," katanya.
Pemerintah lanjut Mentan, akan meningkatkan usahanya untuk mengundang investor baik lokal maupun asing untuk berinvestasi di sektor pertanian, dan juga dalam rangka meningkatkan produksi pangan di Indonesia. "Sektor agrikultur di Indonesia memainkan peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, bagi masyarakat pedesaan sektor ini menjadi sumber pendapatan mereka dan lagi sektor ini cukup banyak menyerap tenaga kerja, sektor ini menjadi dasar pertumbuhan ekonomi pedesaan," tuturnya. (My)
