Minyak Jarak Bisa Gantikan Minyak Tanah di Desa

Minyak Jarak Bisa Gantikan Minyak Tanah di Desa

Berita

Pengembangan jarak pagar -salah satu jenis tanaman penghasil bioenerg-) di Indonesia terhambat oleh belum adanya pengetahuan dan teknologi yang memadai, baik di bidang pemuliaan dan budidaya, proses pengolahan maupun sistem kelembagaan dan bisnis bioenergi.

Kepala Pusat Surfactant and Bioenergi Research Center (SBRC) Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Pertanian Bogor (LPPM-IPB), Dr. Erliza Hambali mengemukakan hal itu saat menjadi pembicara pada Konferensi Jarak Pagar "Menuju Bisnis Jarak Pagar yang Feasible", Selasa (19/6) di Gedung MB-IPB Jln. Pajajaran Bogor.

Karenanya, kata Erliza, untuk menuju bisnis jarak pagar yang feasible diperlukan riset dan pengembangan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Riset dan pengembangan jarak pagar harus dimulai dari hulu sampai hilir dengan melibatkan semua pihak dari berbagai disiplin ilmu.

"Riset dan pengembangan yang dimaksud mencakup lima bidang, yaitu pemuliaan tanaman jarak pagar, teknik budidaya, teknologi proses pengolahan, sistem kelembagaan dan bisnis serta bidang komunikasi masyarakat," imbuhnya.

Sebelumnya, Rektor IPB Prof.Dr.Ir. Ahmad Ansori Mattjik, M.Sc., dalam sambutan pembukaan mengatakan, IPB berkeinginan mengganti minyak tanah di desa-desa secara keseluruhan. "Masyarakat di desa cukup menanam pohon jarak pagar ini. Dengan demikian, tidak perlu lagi mengirimkan minyak tanah ke daerah. Karenanya, merupakan kebutuhan yang mendesak untuk terus mengembangkan jarak pagar," urai Rektor.

Turut hadir pada acara yang ditutup secara resmi oleh Deputi Bidang Pertanian dan Kelautan Menko Perekonomian RI, Dr.Ir. Bayu Krisnamurti itu, antara lain Kepala LPPM IPB Prof.Dr.Ir. Rizal Syarief, DESS., para akademisi dari berbagai Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia, sejumlah pejabat di lingkungan dinas-dinas pemerintahan dan swasta, juga petani jarak pagar. (nm)