Seminar Lingkungan “Solidarity 2009”
Lingkungan senantiasa berubah sepanjang sejarah. Perubahan itu dapat menjurus ke arah keseimbangan lingkungan, dapat pula menjurus ke arah kerusakan lingkungan. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan adalah faktor alam dan manusia.
Faktor alam misalnya letusan gunung, gempa bumi, perubahan iklim, banjir, kekeringan, angin topan, dan kebakaran hutan. Terhadap faktor alam ini biasanya, manusia hanya dapat memperkirakan dan mengurangi dampaknya.
Semakin besar populasi manusia dan semakin maju teknologiny, akan semakin banyak ragam dan jumlah SDA yang diambil dari lingkungan. Maka terjadilah kerusakan lngkungan dan pencemaran. Perubahan lingkungan antara lain akibat, pembangunan perumahan, penebangan hutan, kegiatan industri, pencemaran darat, air, dan udara.
Tema tersebutlah yang diangkat dalam salah satu rangkaian kegiatan Solidarity 2009 berupa Seminar Lingkungan "Kerusakan Lingkungan Tanggungjawab Siapa?" bertempat di Auditorium Toyib Hadiwijaya, yang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan IPB, (13/12) Fakultas Pertanian IPB.
Dalam seminar tersebut menampilkan beberapa nara sumber yang berasal dari Kementrian Lingkungan Hidup, WALHI dan Pakar Biopori IPB, Ir.Kamir R. Brata, MSc.
Ir. Kamir R yang juga dosen Ilmu Tanah dan Sumber Daya Lahan Institut Pertanian, sejak 2000 menemukan teknologi sederhana yang disebutnya teknologi biopori.
Biopori adalah liang atau terowongan kecil yang berada di dalam tanah. "Biopori diciptakan oleh adanya perkembangan akar tanaman dan binatang-binatang yang hidup di dalam tanah," ujarnya dalam seminar tersebut.
Menurut Ir. Kamir, pembuatan lubang resapan biopori tidaklah sulit. Cukup dengan membuat lubang dengan diameter 10 sentimeter dengan kedalaman sekitar satu meter. Untuk membuatan satu lubang hanya memakan waktu paling lama sepuluh menit.
Lubang yang sudah jadi kemudian diisi dengan sampah organik seperti daun-daunan dan sisa makanan. Sampah organik menjadi bahan makanan bagi makhluk hidup di dalam tanah seperti cacing, rayap, dan mikro organisme yang lain. Menurut Kamir, lubang resapan biopori yang baru dibuat serta telah isi sampah bisa memasukan air sebanyak 1,5 liter hingga 16 liter per menit.
Seminar ini juga dimeriahkan dengan penempilan "The Yayi" band dari Departemen Ilmu tanah dan Sumber Daya Lahan, yang kemudian diramaikan dengan penampilan "The Lyla" di malam harinya. (man)
