Saya pikir, orang Jawa yang katanya sudah hedonis itu pada cuek-cuek. “Ternyata anggapan saya itu salah besar. Di sini semangat gotong-royong dan kekeluargaannya sangat terasa dan saya terkesan dan akan menjadikan pengalaman ini oleh-oleh yang berharga untuk kami terapkan di Musi Rawas,” ujar Ketua Pokja 11 Kabupaten Musi Rawas, Sri Aguslastiana selaku Kepala Rombongan Observation Study Tour (OST) di Posdaya Benteng Harapan, Desa Benteng, Kabupaten Bogor, Kamis (24/10).
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Bintang Harapan, salah satu program dari Posdaya Benteng Harapan, menjadi sorotan rombongan. Pengurus dan pengajar PAUD, tidak mendapatkan honor bulanan tetapi masih bersedia mendidik anak-anak Balita (bawah lima tahun) di Desa Benteng mendapatkan sanjungan.
“Sebelumnya kami belum memiliki PAUD, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu). Untuk mengakses Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) jaraknya bisa mencapai 5 kilometer. Beberapa hari setelah Posdaya IPB masuk ke desa kami, PAUD berdiri. Awalnya hanya 10 murid dan di rumah warga. Kini atas dukungan IPB dan desa, PAUD sudah memiliki 40 murid dan ada gedungnya sendiri. Setiap siswa tidak kami pungut biaya,” ujar Ibu Itje, Ketua Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Benteng mewakili suaminya, Kepala Desa Benteng. Pengelolaannya pun masih swadaya warga. Tidak ada dana khusus baik untuk PAUD, Posyandu maupun Posbindu, tambahnya.
Rombongan yang terdiri dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan PKK dari Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan dan Universitas Alkhairaat, Palu Sulawesi Tengah. Rombongan terbagi menjadi dua rombongan dimana rombongan pertama mengunjungi Posdaya Benteng Harapan. Sedangkan rombongan kedua mengunjungi Posdaya Mandiri Terpadu, Desa Cikarawang.(zul)