Produksi Teh Rendah Pengaruhi Upah Buruh

Produksi Teh Rendah Pengaruhi Upah Buruh

Berita
Tiga ribu hektar lahan perkebunan teh hilang akibat dikonversi setiap tahunnya. Demikian dikatakan Dr.Shulton Arifin, Dewan Teh Nasional dalam acara seminar yang bertajuk ‘Memahami Permasalahan Upah dan Kemiskinan pada Industri Teh, Kasus : Indonesia, Malawi dan India’, Jum’at (25/10),  di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga. Tahun 2003 produksi teh mencapai  169 ribu ton.  Namun tahun 2010, produksi teh melorot hingga 129,2 ribu ton.Turunnya produktivitas dan luas kebun teh ini membawa pengaruh luas. Industri teh dalam negeri melemah dan upah buruh mengalami penurunan.
 
Dr.Shulton memprediksi dalam kurun waktu 20 tahun, perkebunan teh Indonesia bisa tinggal kenangan. Padahal perkebunan teh selain dapat mencegah bencana alam erosi, juga menjadi kebanggaan bangsa dan tempat wisata. Untuk itu dalam seminar ini  Dewan Teh Nasional, OXFARM, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Lembaga Sertifikasi Internasional dan IPB  sepakat menyatukan persepsi dan menjaring masukan-masukan serta solusi bersama untuk keberlanjutan produksi teh nasional.
 

Sementara itu, Marselus Rentetana dari Kementerian Daerah Tertinggal menyampaikan  terkait produksi dan upah buruh teh yang rendah harus ada advokasi dari kaum akademisi tentang kondisi buruh dan produksi teh. Selain itu, ada pressure group bisa ke petani maupun pemerintah, disampaikan teh Indonesia masih layak untuk dikembangkan. Sementara itu, Dr. Ir. Parulian Hutagaol  dari Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB menyampaikan terkait upah buruh dan industri teh ini harus ada peranan dari Badan Usaha Miliki Negara (BUMN) atau PT.Perkebunan Nusantara (PTPN) di bidang teh. Acara yang dibuka Dekan Fakultas Ekologi Manusia, Dr.Arif Satria ini juga  dihadiri  dosen, mahasiswa pascasarjana, kalangan asosiasi dan professional. (ddh)