Mentan Timor Leste Harapkan IPB Teliti Ekowisata

Mentan Timor Leste Harapkan IPB Teliti Ekowisata

Berita



Menteri Pertanian dan Kehutanan Timor Leste Ir
Mariano Assanami Sabino mengharapkan di masa datang IPB tetap mengirimkan
mahasiswanya, mulai jenjang D-III hingga S3 untuk melakukan penelitian di
bidang kehutanan berkaitan dengan pengembangan ekowisata di negara itu.

"Saya juga berharap Institut Pertanian Bogor (IPB) bersedia menerima
mahasiswa baru dari Timor Leste," katanya pada seminar melalui konferensi
jarak jauh antara Bogor, Jawa Barat, Indonesia dan Dili, Timor Leste, Jumat.


Seminar internasional itu diadakan aula "Direccao Nacional de
Floresta" Dili untuk membahas hasil-hasil penelitian sebanyak 10 mahasiswa
IPB, baik dari Republik Indonesia dan Timor Leste yang telah dilakukan selama
empat bulan terakhir di Taman Nasional Nino Konis Santana, Distrik Lautem di
bagian Timur, Timor Leste yang berbatasan dengan Australia.


Pada sambutan yang dibacakan Menteri Muda Bidang Pertanian dan Kehutanan Ir
Marcos da Cruz, M.Agr itu, Mariano Assanami Sabino mengemukakan bahwa
penelitian hasil kerja lapangan 10 orang mahasiswa Jurusan Konservasi
Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSDHE) IPB itu sangat penting.


Saat ini Direktorat Nasional Kehutanan Timor Leste sangat membutuhkan data-data
tersebut sebagai landasan untuk perencanaan pembangunan kehutanan di masa-masa
yang akan datang.


Ia mengatakan, selama mahasiswa mengadakan kuliah kerja lapangan, di samping
mengadakan pengamatan lapangan untuk mengambil data, mereka juga telah membantu
Departemen Perlindungan Hutan dan Taman Nasional untuk mendisain logo taman
nasional yang nantinya akan digunakan.


"Mereka telah menunjukan hasil yang sangat-sangat memuaskan. Hasil kerja
lapangan ini dapat menjadi bahan dasar untuk perencanaan pembangunan Kehutanan
khususnya di Timor Leste dan sekaligus sebagai bahan informasi untuk IPB guna
kerja sama lebih lanjut," katanya.


Mariano Assanami Sabino menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
IPB atas kepercayaan yang telah diberikan kepada Direktorat Nasional Kehutanan
Kementrian Pertanian dan Kehutanan Timor-Leste sebagai tuan rumah.


"Khusus kepada Ricky Avenzora sebagai pembimbing utama dan para mahasiswa
peserta kuliah kerja lapangan, saya mengharapkan agar ke depan IPB bisa
mengirimkan lagi mahasiswanya untuk melakukan penelitian di bidang kehutanan
maupun `eco-tourism` di Timor Leste," katanya.


Ia menambahkan, semoga hasil yang telah diperoleh dari mahasiswa IPB itu bukan
saja untuk kepentingan mahasiswa sebagai salah satu syarat kelulusan bagi
mereka.


Selain itu kegiatan penelitian tersebut dapat memperkuat hubungan antara IPB
dan Kementrian Pertanian dan Kehutanan Timor Leste demi kerja sama di masa
datang karena hasil penelitian dari mahasiswa IPB ini sangat bernilai bagi
semua pihak di kedua negara.

Membangun mutualisme


Sementara itu, pembimbing penelitian mahasiswa Dr Ricky Avenzora, mengatakan
bahwa sebagai suatu negara yang sedang berbenah diri, maka Timor Leste sangat
potensial dan penting bagi Indonesia untuk membangun suatu mutualisme yang
harmonis dan bertanggung jawab dalam mengembangkan sektor pariwisata, demikian
pula sebaliknya.


"Saya juga yakin bahwa bapak menteri dan Pemerintah Timor Leste beserta
seluruh masyarakat Timor Leste akan setuju dengan pandangan saya bahwa berbagai
ketidakoptimalan yang terjadi di Indonesia adalah dapat menjadi bahan
pembelajaran bagi Timor Leste dalam membangun berbagai potensi wisata yang
dimiliki," katanya.


Untuk itu, ia menggarisbawahi beberapa yakni untuk memulai suatu pembangunan
pariwisata tidaklah harus terperangkap dalam debat kusir "mana yang lebih
dahulu antara telur dan ayam", yang dalam konteks pariwisata selalu
dipersoalkan mana yang harus lebih dahulu antara infrastruktur dan fasilitas
dari pada "actual demand" yang akan dilayani.


Kemudian, membangun pariwisata adalah bukan (dan jangan pernah diorientasikan)
membangun berbagai infrastruktur dan fasilitas untuk para turis yang diharapkan
datang.


"Sesungguhnya, membangun pariwisata adalah membangun wilayah dan
masyarakat sendiri secara unik, efisien, efektif serta mempunyai citra rasa
serta harmoni yang dibutuhkan dan diharapkan oleh masyarakat kita sendiri untuk
kesejahteraan dan kebahagiaan mereka," katanya.


Jika keunikan, keharmonisan serta citra rasa tersebut dapat diwujudkan dalam
setiap aspek pembangunan yang ada, termasuk dalam aspek sosial budaya
masyarakat, maka adalah pasti wisatawan akan datang dengan sendirinya.


Ia menegaskan bahwa ekowisata bukanlah hanya dan melulu berupa kegiatan wisata
yang berkaitan dengan hutan, alam, ataupun berbagai batasan sempit lainnya.


"Ekowisata adalah mencakup segala bentuk kegiatan wisata pada berbagai
ruang dan waktu serta komunitas masyarkat (baik kota atau pedesaan) yang secara
objektif bisa dipertanggungjawabkan keberlanjutannya dalam segi ekonomi, ekologi
dan lingkungan serta dalam segi sosial-budaya," katanya.


Untuk itu, ia menyarankan Timor Leste janganlah terperangkap dan jangan pernah
membiarkan berkembangnya gagasan-gagasan ekowisata yang sempit dan bertendensi
untuk membatasi kesempatan masyarakat lokal untuk bisa bersentuhan dengan
perkembangan jaman dan modernitas.


Ia juga penelitian para mahasiwa itu belum pula berada dalam keoptimalan
kemampuan mereka. "Dengan segala kekurangan yang mereka milki, yang
tentunya akan kami dorong dan bantu untuk memperbaikinya nanti di saat mereka
kembali ke Bogor," katanya.


Dua mahasiswa IPB asal Timor Leste yang terlibat dalam penelitian adalah Sergio
Pereira dengan judul penelitian "Perencanaan Wisata Danau Iralalaro di
Taman Nasional Nino Konis Santana", dan Higino Barros dengan penelitian
"Perencanaan Wisata Budaya Berbasiskan Peninggalan Sejarah di Taman
Nasional Nino Konis Santana".


Sedangkan delapan mahasiswa lainnya adalah mahasiswa tingkat akhir D-3
Ekowisata IPB dari Indonesia yang selama empat bulan melakukan penelitian di
Taman Nasional Nino Konis Santana di Timor Leste.


Mereka adalah Ratna Agustine dengan judul penelitian "Perencanaan Program
Ekowisata Berbasis Mamalia di Taman Nasional Nino Konis Santana", Bagus
Panuntun dengan judul "Perencanaan Wisata Budaya di Taman Nasional Nino
Konis Santana", Dina Sri Suprajanti dengan judul "Perencanaan Promosi
Wisata melalui Media Leaflet di Taman Nasional.


Lainnya Nino Konis Santana", dan Ehsan Ilahi Zhahir dengan judul
"Perencanaan Wisata Trekking di Tutuala Kawasan Taman Nasional Nino Konis
Santana".


Kemudian, Listiany dengan judul penelitian "Perencanaan Desain Media
Promosi Booklet Berbasis Ekologi dengan Media Fotografi di Taman Nasonal Nino
Konis Santana", Rima Pratiwi Batubara dengan judul "Perencanaaan
Program Wisata Berbasis Kain Tenun di Taman Nasional Nino Konis Santana.


Peneliti lain Holidusin Alfahrezi dengan judul "Perencanaan Wisata
Trekking di Com Kawasan Taman Nasional Nino Konis Santana", serta Halim
Perdana Kusuma dengan judul "Perencanaan Wisata Bahari Berbasis Terumbu
Karang di Pulau Jaco Kawasan Taman Nasional Nino Konis Santana".(*Ant/man)