Snackpacking Jadi Tren di Kalangan Gen Z, Dosen IPB University Ungkap Peran Media Sosial
Tren snackpacking sedang ramai di media sosial yang digandrungi generasi Z. Tren ini dilakukan dengan berburu jajanan lokal, mengunjungi warung kelontong, hingga mencari makanan tradisional yang jarang ditemukan di tempat lain. Selain menikmati kuliner, kegiatan ini juga menjadi cara anak muda mengenal kekayaan suatu daerah.
Dosen Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB University, Dr Hudi Santoso, menjelaskan bahwa tren ini muncul dari pertemuan perubahan budaya mobilitas anak muda dengan perkembangan algoritma platform berbasis visual.
“Di era digital sekarang ini, snackpacking muncul karena bertemunya pergeseran budaya mobilitas, terutama di kalangan gen Z, dengan dinamika algoritma platform berbasis visual,” jelasnya.
Menurut Dr Hudi, tren ini juga berkaitan dengan ekonomi atensi, ketika pembuat konten perlu menarik perhatian audiens dalam tiga detik pertama. Jajanan lokal dengan warna mencolok, proses pembuatan yang unik, serta suasana pasar tradisional menjadi materi visual yang menarik untuk dibagikan di media sosial.
Viralnya tren ini turut didukung oleh harga jajanan lokal yang relatif murah dan mudah dijangkau. Konten ulasan kuliner murah membuat audiens merasa dapat mencoba pengalaman serupa. Kondisi ini berkaitan dengan social proof, yaitu pengaruh pengalaman orang lain terhadap keputusan seseorang untuk ikut mencoba.
Kemudahan tersebut juga mendorong munculnya konten baru dari pengunjung lain atau user-generated content (UGC). “Semakin banyak orang membagikan pengalaman mereka, semakin besar peluang suatu tempat kuliner dikenal luas,” tambahnya.
Dr Hudi menilai, snackpacking bukan sekadar kegiatan membeli makanan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi anak muda untuk mengenal budaya daerah melalui perjalanan, interaksi dengan penjual lokal, dan cerita di balik makanan tradisional.
Dari perspektif komunikasi digital dan media, tren ini menjadi peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas jangkauan pasar.
“Pelaku usaha harus memastikan lokasi usahanya terdaftar dengan akurat di Google Maps, memiliki tag lokasi di Instagram dan TikTok, serta transparan dalam informasi harga dan jam operasional,” ungkap Dr Hudi.
Menurutnya, kemudahan akses navigasi dan informasi produk menjadi kunci agar tempat kuliner dapat ditemukan oleh para snackpacker. Dengan pengelolaan jejak digital yang baik, jajanan lokal berpeluang menjangkau lebih banyak pengunjung melalui media sosial. (Ez)
