Pakar IPB University Jelaskan Penularan Penyakit Pes, Tikus dan Pinjal Berperan Penting
Penyakit pes atau plague merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Penularannya berkaitan erat dengan tikus dan pinjal yang hidup sebagai parasit pada tubuh hewan pengerat tersebut. Memahami hubungan keduanya menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah risiko penularan penyakit pes di lingkungan manusia.
Dr Swastiko Priyambodo, dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB University, menjelaskan bahwa pinjal tikus, salah satunya Xenopsylla cheopis, berperan sebagai vektor dalam penularan penyakit pes. Pinjal merupakan ektoparasit yang hidup dengan mengisap darah tikus. Bakteri penyebab pes dapat ditularkan kepada manusia melalui gigitan pinjal yang terinfeksi.
“Dengan demikian terdapat tiga tingkat trofik yang bekerja sama dalam penularan penyakit pes, yaitu tikus, pinjal tikus, dan bakteri pes,” jelasnya.
Menurut Dr Swastiko, pinjal umumnya tidak berpindah inang apabila masih dapat bertahan pada inang sebelumnya. Namun, ketika tikus yang menjadi inangnya mati, pinjal akan mencari inang baru. Jika pinjal terinfeksi kemudian menggigit manusia, bakteri penyebab pes dapat masuk ke tubuh manusia.
Secara prinsip, berbagai spesies tikus berpotensi berperan dalam penularan penyakit ini. Meski demikian, tikus rumah dan tikus Norway menjadi perhatian karena hidup berdekatan dengan manusia sehingga peluang terjadinya kontak lebih besar.
Penyakit pes juga memiliki catatan sejarah yang serius. Pada periode 1347–1351, wabah Black Death melanda Eropa, Afrika Utara, dan Asia Barat serta menyebabkan kematian dalam jumlah sangat besar. Peristiwa tersebut menunjukkan dampak yang dapat ditimbulkan penyakit pes ketika penularannya meluas.
Terkait kekhawatiran mengenai kasus di Rusia yang terjadi belakangan ini, Dr Swastiko menilai keberadaan pinjal sebagai vektor perlu diperhatikan dalam memahami risiko penularan. Menurutnya, peluang penularan melalui jalur tersebut menjadi sangat kecil apabila tidak ada pinjal yang berperan sebagai vektor. Namun, penilaian risiko tetap perlu mengacu pada hasil pemeriksaan dan informasi resmi otoritas kesehatan.
Di Indonesia, penyakit pes masih ditemukan secara terbatas di sejumlah kabupaten di Pulau Jawa dan terus dipantau oleh Kementerian Kesehatan. Karena itu, pengendalian tikus di lingkungan permukiman menjadi bagian penting dalam pencegahan.
“Pengendalian tikus di habitat sekitar manusia menjadi hal yang penting untuk kita terapkan, terutama dengan cara sanitasi, menghilangkan sumber daya atau makanan manusia yang dapat dimakan oleh tikus seperti tempat sampah,” ungkapnya.
Selain pes, masyarakat juga perlu mewaspadai leptospirosis dan hantavirus yang berkaitan dengan urine tikus. Leptospirosis dapat menular melalui air atau tanah yang tercemar urine hewan terinfeksi, sedangkan hantavirus tertentu dapat menyebar melalui udara ketika partikel yang terkontaminasi terhirup.
Dengan menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah secara tepat, dan mengurangi sumber makanan tikus, masyarakat dapat membantu menekan risiko penyakit yang berkaitan dengan hewan pengerat. (Ez)
