Lingkungan Asri Jadi Modal Green Campus, Dosen IPB University Ungkap Peran RTH Turunkan Suhu dan Polusi

Lingkungan Asri Jadi Modal Green Campus, Dosen IPB University Ungkap Peran RTH Turunkan Suhu dan Polusi

lingkungan-asri-jadi-modal-green-campus-dosen-ipb-university-ungkap-peran-rth-turunkan-suhu-dan-polusi
Berita / Riset dan Kepakaran

Ruang terbuka hijau (RTH) menjadi salah satu penopang green campus yang sehat dan berkelanjutan di lingkungan kampus. 

Dosen Departemen Arsitektur Lanskap (ARL) IPB University, Prita Ayu Permatasari, SP, MSi menjelaskan bahwa RTH memberikan berbagai jasa ekosistem yang manfaatnya dirasakan langsung oleh civitas akademika. Manfaatnya mencakup efisiensi energi, konservasi air, kesehatan manusia, hingga pelestarian keanekaragaman hayati.

“Ruang terbuka hijau memiliki nilai penting untuk mendukung konsep green campus melalui jasa ekosistem yang dihasilkan, seperti menurunkan suhu udara, menyerap polusi, mengurangi aliran permukaan, meningkatkan konservasi air, serta mendukung konservasi biodiversitas,” jelasnya.

Kampus Lebih Sejuk
Salah satu manfaat yang dapat dirasakan adalah adalah lingkungan kampus yang lebih sejuk. Ia menjelaskan, pepohonan membantu mengurangi paparan radiasi matahari melalui tajuknya, sementara proses evapotranspirasi berkontribusi menurunkan suhu di sekitar vegetasi. 

“Kondisi ini membuat lingkungan lebih nyaman dan berpotensi mengurangi kebutuhan pendingin ruangan,” tuturnya.

Udara Lebih Bersih
Tak hanya itu, vegetasi juga berperan menjaga kualitas udara. Tanaman menyerap karbon melalui fotosintesis, sedangkan bagian tertentu tumbuhan dapat menangkap partikel debu dan membantu mengurangi konsentrasi polutan, seperti nitrogen dioksida. Menurut Prita penanaman pohon yang tepat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan kampus yang lebih sehat.

Penataan Lanskap Maksimalkan Manfaat
Agar manfaat ekologis tersebut optimal, Ia menekankan pentingnya penataan lanskap yang terencana, termasuk memastikan keterhubungan antarkawasan hijau melalui koridor vegetasi di sepanjang jalan dan area kampus.

Pemilihan jenis tanaman juga disesuaikan dengan fungsinya. Pohon bertajuk lebar dapat memberikan keteduhan, sedangkan susunan vegetasi yang tepat dapat membantu mengurangi paparan polutan. Penggunaan tanaman lokal mendukung adaptasi tumbuhan sekaligus menjaga kelestarian spesies setempat.

Ia menilai keterhubungan RTH dengan ruang terbuka biru, seperti sungai dan danau, juga penting. Integrasi keduanya dapat membantu melindungi habitat, mendukung konservasi air, dan mengurangi risiko banjir.

Mobilitas Ramah Lingkungan
Penataan lanskap juga mendukung mobilitas ramah lingkungan lewat jalur pejalan kaki dan pesepeda yang teduh. Tanaman di sepanjang jalur dipilih dengan mempertimbangkan keamanan, misalnya berakar yang tidak merusak infrastruktur dan tidak membahayakan pengguna jalan.

“Penataan vegetasi yang tepat dapat membantu menurunkan suhu udara, mengurangi polusi, mencegah genangan, hingga menciptakan lingkungan yang nyaman bagi pejalan kaki,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan green campus tidak hanya diukur dari banyaknya tanaman atau luas kawasan hijau, tetapi juga dari kemampuan lanskap menjalankan fungsi ekologisnya.

“Peningkatan konektivitas antarruang terbuka hijau melalui koridor hijau, pemilihan tanaman yang sesuai, dan konservasi habitat dapat membantu memperbaiki kualitas lingkungan kampus,” pungkasnya. (AS)