Dosen IPB University Ungkap Asal-usul di Balik Dentuman Misterius Bojonegoro
Suara dentuman keras yang terdengar di kawasan Bojonegoro dan sekitarnya memunculkan berbagai dugaan di tengah masyarakat. Kemunculan rekaman yang memperlihatkan kilatan cahaya di langit turut memicu spekulasi, mulai dari turunnya meteor hingga aktivitas geologi dan fenomena atmosfer.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr Givo Alsepan menjelaskan bahwa suara dentuman yang belum diketahui sumbernya tidak dapat langsung dikaitkan dengan fenomena tertentu. Menurutnya, diperlukan kajian ilmiah yang menggabungkan bukti dari berbagai bidang, termasuk fisika atmosfer, geofisika, dan astronomi.
“Kemiripan suara bukan bukti kesamaan penyebab. Untuk mengetahui sumbernya, kita perlu menggabungkan bukti dari berbagai bidang ilmu, bukan hanya mengandalkan kesaksian atau rekaman yang beredar di media sosial,” jelasnya.
Dr Givo menyebut sejumlah kemungkinan yang perlu ditelusuri. Salah satunya adalah meteor yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi. Interaksi benda antariksa dengan atmosfer dapat menghasilkan pemanasan intensif dan dalam kondisi tertentu, gelombang kejut dapat menimbulkan suara dentuman di permukaan Bumi.
Namun, ia melanjutkan, kilatan cahaya yang muncul berdekatan dengan suara dentuman belum cukup untuk memastikan bahwa peristiwa tersebut disebabkan oleh meteor. “Rekaman visual perlu diverifikasi, termasuk waktu kejadian, lokasi pengambilan gambar, dan lintasan objek yang terlihat,” ujarnya.
Kemungkinan lain, sebut Dr Givo, berasal dari fenomena atmosfer, seperti aktivitas petir dan perubahan struktur suhu udara yang memengaruhi perambatan suara. Pada kondisi tertentu, inversi suhu dapat membelokkan gelombang suara sehingga sumber bunyi yang jauh terdengar lebih jelas di wilayah tertentu.
Selain itu, aktivitas tektonik atau geologi juga perlu diperiksa berdasarkan bukti yang relevan. Pelepasan energi akibat pergerakan batuan dapat menghasilkan gelombang seismik. Meski demikian, suara dentuman keras tidak otomatis menunjukkan terjadinya gempa bumi.
Dalam pemberitaan pada 19–20 Oktober 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nganjuk dilaporkan tidak mendeteksi aktivitas kegempaan di sekitar Gunung Pandan yang dapat langsung dikaitkan dengan kejadian tersebut. “Informasi ini dapat mengurangi dukungan terhadap dugaan gempa tektonik, tetapi belum membuktikan bahwa penyebabnya adalah meteor atau fenomena atmosfer,” tambahnya.
Dr Givo menekankan pentingnya pemeriksaan rekaman kamera dari beberapa lokasi, data seismograf, informasi aktivitas petir, serta kondisi cuaca saat kejadian. Kesaksian warga juga perlu dilengkapi keterangan waktu, lokasi, arah suara, dan jeda antara kilatan cahaya dengan dentuman.
“Sampai penyebabnya terverifikasi, penjelasan yang paling tepat adalah bahwa sumber dentuman tersebut belum dapat dipastikan secara ilmiah. Kesimpulan harus mengikuti kekuatan bukti yang tersedia,” tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menyebarkan dugaan sebagai fakta. Warga yang memiliki rekaman kejadian sebaiknya menyimpan berkas asli dan melaporkannya kepada pihak berwenang.
“Jika menemukan benda asing atau lokasi yang diduga terdampak, jaga jarak dan jangan sentuh benda yang belum diketahui asalnya,” imbuh Dr Givo. (AS)
