Waspadai Modus Penculikan Anak di Sekolah, Ahli IPB University Ingatkan Pentingnya Pengawasan di Gerbang Sekolah

Waspadai Modus Penculikan Anak di Sekolah, Ahli IPB University Ingatkan Pentingnya Pengawasan di Gerbang Sekolah

waspadai-modus-penculikan-anak-di-sekolah-ahli-ipb-university-ingatkan-pentingnya-pengawasan-di-gerbang-sekolah
Ilustrasi: magnific
Riset dan Kepakaran

Dugaan modus penculikan anak di sekitar gerbang sekolah kembali mencuat. Dari postingan yang beredar di media sosial, pelaku mencoba mengintip nama anak di buku/tas agar bisa pura-pura mengenali untuk menjemput si kecil.

Dalam situasi seperti ini, kewaspadaan terhadap keselamatan anak perlu ditingkatkan. Namun, di waktu yang sama, masyarakat juga diimbau untuk tidak langsung menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Dr Yulina Eva Riany, mengatakan gerbang sekolah merupakan salah satu titik penting dalam perlindungan anak karena menjadi tempat bertemunya anak, orang tua, penjemput, dan orang lain, terutama pada jam pulang sekolah.

Pengawasan Berlapis di Sekolah
Orang tua dan sekolah perlu membangun sistem pengawasan berlapis. Hal ini dapat dilakukan dengan memperketat prosedur penjemputan, memastikan perubahan penjemputan dikonfirmasi, serta menentukan area aman bagi anak yang belum dijemput.

Jika terdapat pendekatan yang mencurigakan, pihak sekolah perlu mencatat dan memeriksa kejadian tersebut, menghubungi orang tua, serta melapor kepada pihak berwenang apabila terdapat ancaman.

Membekali Body Safety Sejak Dini
Selain memperketat pengawasan, orang tua perlu membekali anak pemahaman khusus terkait batas aman atau body safety dan privasi sejak dini. Seseorang yang tahu nama anak belum tentu merupakan orang yang diizinkan untuk menjemput atau mengajak mereka pergi.

Anak perlu mengetahui informasi pribadi yang harus dijaga, seperti nama lengkap, alamat, nama orang tua, nomor telepon, kelas, hingga jadwal dan cara pulang sekolah.

“Edukasi tersebut dapat dilakukan melalui simulasi atau bermain peran agar anak terbiasa menghadapi situasi ketika seseorang yang tidak dikenal menanyakan informasi pribadi,” jelasnya.

Dr Yulina juga mengingatkan agar edukasi kepada anak tidak dilakukan dengan menanamkan ketakutan terhadap semua orang asing. Anak perlu diajarkan untuk mengenali perilaku dan situasi yang tidak aman, bukan sekadar menilai seseorang dari penampilannya.

“Anak boleh menolak ajakan, hadiah, atau permintaan untuk pergi bersama seseorang tanpa izin orang tua atau guru, sekalipun orang tersebut terlihat ramah atau mengaku mengenal keluarga,” ucap Dr Yulina.

Keterampilan Melindungi Diri
Ia melanjutkan, keterampilan penting lainnya adalah kemampuan berkata “tidak”, mengambil jarak, mencari bantuan, dan melaporkan kejadian kepada orang dewasa yang dipercaya. Anak juga perlu mengetahui tempat dan orang yang aman untuk meminta pertolongan, seperti guru, petugas keamanan, atau petugas sekolah.

“Anak tidak perlu memastikan lebih dulu apakah seseorang berniat buruk. Jika ada ajakan pergi, perubahan rencana penjemputan, permintaan merahasiakan sesuatu dari orang tua, atau tindakan yang membuatnya tidak nyaman, anak boleh langsung kembali ke guru atau petugas sekolah,” jelasnya.

Ciptakan Ruang Aman untuk Bercerita
Di sisi lain, orang tua juga perlu menciptakan ruang aman agar anak tidak takut bercerita ketika mengalami situasi yang membuatnya tidak nyaman. Dengan edukasi yang konsisten, komunikasi terbuka, serta pengawasan bersama antara keluarga dan sekolah, anak dapat memiliki keterampilan untuk mengenali situasi berisiko dan mengambil tindakan perlindungan diri. (Lp)