Tim PKM IPB University Pedal Juara Dorong Motivasi Anak Sekolah Adisa, Bantar Gebang untuk Lanjutkan Pendidikan

Tim PKM IPB University Pedal Juara Dorong Motivasi Anak Sekolah Adisa, Bantar Gebang untuk Lanjutkan Pendidikan

tim-pkm-ipb-university-pedal-juara-dorong-motivasi-anak-sekolah-adisa-bantar-gebang-untuk-lanjutkan-pendidikan
Berita / Student Insight

Tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi dan lingkungan pengolahan sampah yang rentan membuat sebagian anak menghadapi tantangan dalam membangun rasa percaya diri dan daya juang untuk meraih masa depan. Di sisi lain, pendidikan konvensional di ruang kelas dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab realitas kehidupan yang mereka hadapi.

Kondisi tersebut melandasi mahasiswa IPB University tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Pedal Juara untuk hadir sebagai respons atas tingginya risiko putus sekolah dan krisis motivasi belajar pada anak-anak di kawasan marginal, khususnya siswa di Sekolah Adisa, Bantargebang, Bekasi.

Masalah di Balik TPA Terbesar
Azalea Serafina Princessa selaku ketua tim mengatakan, Bantargebang dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program karena kawasan tersebut merupakan lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) terbesar di Indonesia yang menghadirkan tantangan lingkungan dan sosial, termasuk bagi anak-anak.

“Melalui observasi di Sekolah Adisa, kami melihat secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi siswa. Temuan tersebut menjadi dasar bagi kami untuk merancang intervensi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter, penguatan resiliensi, dan keterampilan aplikatif,” ujar Azalea.

Tim Pedal Juara terdiri atas Azalea (ketua), Muhammad Fazza Ilham Ersafero, Resky Amalia Putri, Muhammad Wafi Robbani, serta Muhammad Syaamil, bersama dosen pembimbing Dr Melly Latifah dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University.

Dari Sampah Jadi Produk
Tim Pedal Juara merancang intervensi terstruktur dengan memadukan pendekatan personal berbasis teori Character Strengths dan metode experiential learning atau pembelajaran melalui pengalaman langsung. 

“Setiap anak diarahkan untuk mengenali potensi unik yang dimiliki sekaligus membangun karakter pantang menyerah. Program juga membekali siswa dengan keterampilan kewirausahaan ramah lingkungan melalui pengolahan limbah di sekitar mereka menjadi produk yang memiliki nilai jual,” kata Azalea menjelaskan.

Keterampilan tersebut, lanjutnya, kemudian diperkuat melalui simulasi bazar, sehingga anak-anak tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam berkomunikasi, menawarkan produk, dan bernegosiasi.

Mengatasi Rasa Minder
Menurut penuturan Azalea dan tim, salah satu tantangan terbesar dalam pelaksanaan program adalah membangun rasa percaya diri sekaligus mengatasi keraguan diri (self-doubt) pada anak-anak. Pada tahap awal, sebagian siswa cenderung pasif, pemalu, dan ragu untuk sekadar menyampaikan pendapat.

Tantangan tersebut diatasi melalui pendekatan personal yang intensif dan suportif, dilakukan secara individual dengan pendekatan yang hangat dan konsisten untuk menggali potensi serta membangun keberanian setiap anak. Hasilnya, anak-anak yang sebelumnya cenderung menutup diri mulai berani tampil di depan, aktif menyampaikan pendapat, hingga mampu mempraktikkan teknik komunikasi dan negosiasi secara mandiri ketika menawarkan produk hasil karya mereka.

Tingkatkan Motivasi dan Sikap Positif
Azalea mengatakan, sebelum program berjalan, tak ada satu pun siswa yang memiliki pemahaman memadai mengenai peluang studi lanjut. Namun setelah intervensi program, seluruh peserta berhasil melompat ke kategori pengetahuan tinggi. 

Lonjakan serupa terjadi pada aspek motivasi. Dari yang semula hanya 20 persen siswa, kini seluruh peserta memiliki dorongan kuat untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi.  

Tak sekadar memberikan dorongan moral, seluruh peserta juga dibekali kemampuan menyusun peta jalan studi masa depan secara terperinci, mulai dari penentuan cita-cita, langkah konkret pencapaiannya, hingga target sekolah tujuan setelah lulus SMP.

“Bagi lingkungan sekitar, program ini turut mengubah cara pandang terhadap limbah. Mereka tidak lagi memandangnya sebagai persoalan lingkungan semata, tetapi peluang ekonomi sekaligus media pembelajaran bagi anak-anak, juga membuka peluang kolaborasi multipihak untuk keberlanjutan pendidikan di Sekolah Adisa,” sebut Azalea. (dh)