Bukan Jalan Pintas Menurunkan Berat Badan, Ini Risiko Memuntahkan Makanan Menurut Dokter IPB University

Bukan Jalan Pintas Menurunkan Berat Badan, Ini Risiko Memuntahkan Makanan Menurut Dokter IPB University

bukan-jalan-pintas-menurunkan-berat-badan-ini-risiko-memuntahkan-makanan-menurut-dokter-ipb-university
Berita / Riset dan Kepakaran

Memuntahkan makanan setelah makan, baik yang dilakukan sebagai bagian dari konten mukbang maupun dengan alasan mengontrol berat badan, bukan merupakan metode diet yang sehat. Kebiasaan tersebut justru dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan apabila dilakukan secara berulang.

Hal tersebut ditegaskan dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Yunita Aryani, MSi, MH. Ia menjelaskan bahwa makanan yang dimuntahkan tidak berarti seluruhnya keluar dari tubuh. 

“Proses penyerapan zat gizi bahkan telah mulai berlangsung sejak makanan dikonsumsi. Karena itu, memuntahkan makanan bukan cara yang tepat untuk mencegah kenaikan berat badan,” ujarnya.

Jika dilakukan berulang sebagai metode diet, dr Yunita menyebutkan, perilaku tersebut termasuk purging behavior atau perilaku kompensasi yang tidak sehat. “Kondisi ini dapat membentuk siklus makan berlebihan, munculnya rasa bersalah, ketakutan terhadap kenaikan berat badan, kemudian kembali memuntahkan makanan,” jelasnya.

Menurutnya, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan gangguan makan seperti bulimia nervosa. Konten mukbang yang menormalisasi tindakan memuntahkan makanan juga perlu disikapi secara hati-hati karena berpotensi ditiru oleh penonton, terutama remaja dan individu yang memiliki kekhawatiran terhadap berat badan.

Hipokalemia dan Risiko Lainnya
Salah satu komplikasi yang dapat terjadi akibat muntah berulang adalah hipokalemia atau kondisi ketika kadar kalium dalam darah terlalu rendah. Muntah menyebabkan kehilangan cairan dan asam lambung sehingga tubuh mengaktifkan mekanisme hormonal untuk mempertahankan cairan. Peningkatan hormon aldosteron kemudian dapat mendorong ginjal membuang lebih banyak kalium melalui urine.

“Hipokalemia dapat menyebabkan lemas, kram otot, konstipasi, kesemutan, jantung berdebar, hingga gangguan irama jantung. Pada kondisi berat, aritmia dapat mengancam nyawa,” ungkapnya.

Selain hipokalemia, muntah berulang dapat menyebabkan dehidrasi dan gangguan fungsi ginjal, ketidakseimbangan elektrolit serta asam-basa, peradangan dan luka pada kerongkongan, kerusakan enamel gigi akibat paparan asam lambung, hingga risiko tersedak atau masuknya isi lambung ke paru-paru. 

“Dari sisi psikologis, perilaku ini juga dapat berkaitan dengan kecemasan, depresi, citra tubuh negatif, serta siklus makan dan muntah yang semakin sulit dihentikan,” jelasnya.

dr Yunita menekankan pentingnya penanganan secara komprehensif. Individu yang mengalami perilaku tersebut perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mengevaluasi kondisi fisik, pola makan, status hidrasi, kondisi psikologis, elektrolit, fungsi ginjal, serta pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.

“Terapi bukan sekadar melarang pasien muntah, tetapi mencari pemicunya, membentuk kembali pola makan yang teratur, serta memperbaiki hubungan dengan makanan dan citra tubuh,” tuturnya.

Ia mengingatkan bahwa memuntahkan makanan bukan jalan pintas untuk menjadi kurus. Pengelolaan berat badan perlu dilakukan melalui pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur yang cukup, serta pendampingan tenaga kesehatan sesuai kondisi masing-masing. (Lp)