Mahasiswa KKNT IPB University Kenalkan Sigap AWS dan Gesit Tani kepada Ibu PKK Desa Gempolrejo
Mahasiswa IPB University menggelar kegiatan “Sigap AWS” bersama ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Gempolrejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora. Kegiatan yang menjadi bagian Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai informasi cuaca dan iklim serta mendorong pemanfaatan teknologi automatic weather station (AWS) dalam kehidupan sehari-hari, kesehatan keluarga, dan aktivitas pertanian.
Kabupaten Blora menjadi salah satu wilayah yang memiliki risiko kekeringan cukup tinggi. Pada 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora memetakan 149 desa dan kelurahan di 15 kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau. Kondisi tersebut mendorong pentingnya pemahaman masyarakat terhadap informasi cuaca dan iklim sebagai bagian dari upaya adaptasi.
Dalam kegiatan tersebut, ibu-ibu PKK memperoleh pemahaman mengenai informasi cuaca, iklim, dan pola musim hujan di Kabupaten Blora. Mahasiswa memperkenalkan AWS, yaitu alat untuk memantau kondisi cuaca secara otomatis dan real time, serta mengenalkan cara mengakses dan membaca informasi cuaca melalui situs map.suinaubumi.org.
Menurut Tiwi, pemahaman mengenai kondisi cuaca dan iklim semakin penting di tengah perubahan iklim global yang menyebabkan kondisi cuaca dan musim lebih sulit diprediksi.
“Informasi dan pemahaman terkait ini (kondisi cuaca dan iklim) menjadi hal yang penting mengingat perubahan iklim global menyebabkan cuaca semakin sulit diprediksi,” ujar Tiwi di sela acara Sigap AWS di Balai Desa Gempolrejo, beberapa waktu lalu.
Informasi cuaca juga berkaitan dengan kesehatan keluarga, khususnya ketika kemarau berlangsung panjang. Suhu yang lebih tinggi dan keterbatasan air dapat meningkatkan risiko dehidrasi, terutama pada anak-anak, lansia, dan kelompok rentan. Kekeringan juga dapat menyulitkan pemenuhan kebutuhan air untuk kebersihan diri dan rumah tangga sehingga berpotensi meningkatkan risiko penyakit kulit serta gangguan kesehatan yang berkaitan dengan sanitasi.
Selain Sigap AWS, mahasiswa KKNT IPB University merangkaikan kegiatan dengan Gesit Tani (Gerakan Edukasi dan Praktik Sistem Pertanian Organik Terpadu) yang berfokus pada pemilahan dan pemanfaatan sampah organik rumah tangga. Ibu-ibu PKK diperkenalkan pada pemilahan sisa sayuran, kulit buah, dan bahan dapur dari sampah anorganik untuk kemudian diolah melalui proses penguraian.
Praktik Gesit Tani menggunakan galon plastik sebagai wadah pengolahan. Sampah organik yang telah dipilah dan dicacah dikombinasikan dengan bahan kering seperti daun kering, jerami, sekam, atau bahan organik lainnya. Bahan tersebut kemudian dibasahi menggunakan air biasa atau air cucian beras dan ditambahkan EM4 sebagai aktivator untuk membantu proses penguraian.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKNT IPB University mendorong ibu-ibu PKK untuk memanfaatkan sampah organik dari rumah tangga sebagai sumber daya yang dapat digunakan kembali. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi timbulan sampah sekaligus mendukung penerapan pertanian yang lebih berkelanjutan di Desa Gempolrejo. (*/Rz)
