LPA2I IPB University dan Himasita Dorong PHT Biointensif untuk Bawang Merah
Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University mendorong penguatan strategi perlindungan tanaman yang efektif, efisien, dan berkelanjutan melalui penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) biointensif.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita) IPB University dalam Opening Festival Perlindungan Tanaman Indonesia (FPTI) 2026 × Webinar Dokter Tanaman Series #5 yang digelar pada Sabtu (12/9).
Mengangkat tema “Strategi PHT Biointensif untuk Pengendalian OPT Bawang Merah”, kegiatan ini menjadi ruang diskusi yang mempertemukan perspektif akademik dan pengalaman praktis dalam menjawab tantangan pengelolaan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada komoditas bawang merah.
Asisten Bidang Pengembangan Tani dan Nelayan LPA2I, Bonjok Istiaji, SP, MSi, menyampaikan bahwa bawang merah merupakan salah satu komoditas strategis dengan nilai ekonomi penting bagi Indonesia. Namun, produktivitas dan efisiensi usaha budi dayanya masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya tingginya biaya pengendalian hama dan penyakit.
Menurut Bonjok, dinamika OPT yang terus berkembang membutuhkan pendekatan pengelolaan yang tidak hanya berorientasi pada pengendalian ketika serangan terjadi, tetapi juga memperhatikan kesehatan tanaman dan kondisi lingkungan secara menyeluruh.
“Kita berharap pertanian atau teknik budi daya biointensif menjadi salah satu jawaban dan terus kita kembangkan,” ujar Bonjok dalam webinar yang diikuti sekitar 680 peserta melalui Zoom Meeting dan siaran langsung YouTube.
Penguatan perspektif akademik disampaikan Prof Suryo Wiyono, Guru Besar Departemen Proteksi Tanaman IPB University. Ia menjelaskan, penerapan PHT perlu dimulai sejak pengelolaan ekosistem pertanaman, termasuk melalui pengaturan pola tanam dan kondisi lingkungan, bukan hanya dilakukan setelah serangan OPT terjadi.
Salah satu strategi yang dibahas adalah pergiliran tanaman sebagai upaya memutus keberlangsungan siklus hidup hama. “Pergiliran tanaman hampir memengaruhi semua hama, kecuali virus,” jelas Prof Suryo.
Ia juga menjelaskan bahwa perkembangan penyakit tanaman dipengaruhi oleh interaksi antara tanaman inang, patogen, dan lingkungan. Oleh karena itu, ketiga faktor tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan strategi pengelolaan OPT.
Perspektif lapangan turut disampaikan Adi Nugraha, SP, MSi, yang berbagi pengalaman mengenai budi daya bawang merah, dinamika musim tanam, kondisi OPT, serta tantangan yang dihadapi petani. Menurut Adi, nilai ekonomi menjadi salah satu faktor yang membuat bawang merah tetap menarik untuk dibudidayakan. “Bahkan ketika hasilnya turun, komoditas ini masih memiliki peluang untuk disimpan dan dipasarkan kemudian,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB University, Dr Giyanto, MSi, mengapresiasi konsistensi mahasiswa dalam membangun ruang edukasi di bidang perlindungan tanaman. Kegiatan seperti Dokter Tanaman Series dapat memperluas akses masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia terhadap informasi dan pengetahuan mengenai perlindungan tanaman.
Ketua FPTI 2026, Dimas Erwin, menyampaikan bahwa kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan edukasi perlindungan tanaman yang relevan dan aplikatif. FPTI 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, praktisi, dan masyarakat.
Sinergi ini diharapkan dapat mendukung pengembangan strategi perlindungan tanaman yang lebih efektif, adaptif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan bagi pertanian Indonesia. (*/Rz)
