Program SINERGI, IPB University Bangun Model Plasma–Inti Kembangkan Bisnis Maggot
Sampah organik masih menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan. Di sisi lain, kebutuhan bahan baku pakan terus meningkat.
Melihat dua persoalan tersebut, IPB University melalui Center for Tropical Animal Studies (CENTRAS)-Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan dan Halal (LRI PGKH), mendorong pengembangan model bisnis maggot yang tidak hanya berbicara soal budi daya, tetapi juga bagaimana sampah dapat diolah menjadi produk bernilai.
Hal tersebut dibahas dalam kegiatan Sosialisasi Model Bisnis Maggot, Penandatanganan Surat Perjanjian Kerja Sama (SPK), dan Peminjaman Mesin Pengering Maggot dalam rangka Program SINERGI 2026, Senin (14/9).
“Memasuki tahun kedua, Program SINERGI diarahkan untuk mengembangkan model bisnis maggot dengan pendekatan ekonomi sirkular, khususnya mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bermanfaat,” kata Dr Dahri Tanjung, salah satu perwakilan IPB University.
Menurutnya, IPB University berperan dalam menemukan inovasi dan memberikan hasilnya kepada masyarakat. Sementara kegiatan komersial diharapkan dapat dikembangkan melalui mitra yang terlibat.
Model Plasma–Inti
Sementara itu, Kepala CENTRAS Prof Nahrowi, menjelaskan model bisnis yang dikembangkan menggunakan konsep plasma–inti. Mitra sebagai plasma tidak perlu melakukan seluruh proses budi daya (mulai dari menetaskan telur, membesarkan maggot, hingga menghasilkan telur kembali).
“Plasma dapat berfokus pada pembesaran maggot, sementara tahapan lainnya dilakukan oleh pihak yang memiliki peran masing-masing,” tuturnya.
Menurutnya, keberadaan off-taker menjadi bagian penting dalam model tersebut. Dengan adanya pihak yang menyerap hasil produksi, mitra memiliki kepastian pasar.
Model ini akan melibatkan lima plasma dengan kondisi berbeda, di antaranya mitra di Jakarta, Bintaro, Tenjolaya, IPB University, dan Depok. Masing-masing memiliki potensi bahan baku dan kondisi pengelolaan yang berbeda.
Prof Nahrowi menekankan bahwa hubungan dalam model plasma–inti juga membutuhkan kepercayaan antarpihak. Plasma harus percaya kepada inti, begitu pula sebaliknya.
Selain ketersediaan sampah, proses pengeringan menjadi salah satu tantangan. Pengeringan menggunakan matahari membutuhkan waktu beberapa hari, sedangkan mesin pengering berskala besar membutuhkan investasi tinggi. Karena itu, mesin pengering menjadi salah satu dukungan teknologi yang diberikan melalui program ini.
CEO Biomagg Sinergi Internasional Aminudi Amin, menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem maggot membutuhkan kerja sama antarpihak, mulai dari penggiat maggot, plasma, hingga off-taker. Menurutnya, proses tersebut tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga pengelolaan bahan baku dan biaya yang tepat.
Dalam kegiatan tersebut, mesin pengering maggot dipinjamkan kepada mitra untuk mendukung proses produksi. Fasilitas ini diharapkan dapat membantu mengatasi salah satu bottleneck dalam pengolahan maggot sekaligus mendukung penerapan model bisnis yang dikembangkan.
Melalui model tersebut, IPB University mendorong terbentuknya ekosistem maggot yang menghubungkan pengelolaan sampah organik, produksi, pengolahan, dan pasar secara berkelanjutan. Model ini diharapkan dapat menjadi percontohan yang nantinya dikembangkan lebih luas. (Ez)
