Dies Natalis ke-63, Rektor Perkuat Arah Pengembangan IPB University
IPB University memperingati Dies Natalis ke-63. Perayaan Dies Natalis dimulai dengan acara Sidang Terbuka yang digelar di Auditorium Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Selasa (1/9).
Dalam momentum tersebut, Rektor Dr Alim Setiawan Slamet menegaskan arah pengembangan IPB University melalui tiga prinsip: inclusivity, prosperity, dan sustainability.
Inklusivitas Pendidikan
Rektor mengatakan ketiga prinsip tersebut menjadi landasan IPB University dalam menghadapi perubahan zaman sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi bagi masyarakat dan bangsa.
“Apakah teknologi tersebut dapat digunakan petani kecil? Apakah dapat membantu nelayan dengan perahu sederhana? Apakah dapat meningkatkan kesejahteraan pembudi daya ikan dan masyarakat desa?” katanya.
Menurutnya, inovasi tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu. Prinsip inklusivitas juga harus diwujudkan melalui perluasan akses pendidikan tanpa mengorbankan mutu, serta penguatan kolaborasi lintas disiplin dan lintas pihak.
“Pilihan IPB adalah keunggulan yang inklusif—akses diperluas, tetapi standar mutu tetap dijaga,” tegas Dr Alim.
Launching IPB Prosperity
Prinsip kedua, prosperity (kemakmuran). Salah satu wujud nyatanya hadir lewat program IPB Prosperity, ekosistem yang dirancang untuk membangun sumber kesejahteraan warga IPB secara lebih pasti dan berkelanjutan. Sebagian hasil pertumbuhan bisnis dan kerja sama institusi akan dikelola secara profesional agar manfaatnya dapat kembali kepada warga IPB University.
Sebagai langkah awal, mulai tahun ini IPB University meningkatkan secara signifikan gaji pegawai kontrak atau pegawai tidak tetap. Selain itu, Rektor juga memperkenalkan IPB Bakti Lestari, yang memberikan tambahan tabungan dana pensiun sebesar Rp10 juta per tahun bagi setiap pegawai tetap, dihitung sejak 10 tahun sebelum masa pensiun.
“Saya menyadari angka ini belum menjawab seluruh kebutuhan. Tetapi ini adalah permulaan yang nyata dan konsisten. Permulaan yang nyata jauh lebih berharga daripada janji yang tidak pernah direalisasikan,” ujar Alim.
Living Lab Sustainability
Sementara keberlanjutan menjadi syarat dalam setiap pengembangan inovasi. IPB University didorong mengambil peran dalam pertanian adaptif perubahan iklim, ekonomi biru, ekonomi sirkular, hingga pendekatan one health. “IPB harus menjadi living lab keberlanjutan,” ujarnya.
IPB University menempatkan inovasi sebagai penggerak nilai tambah, usaha, lapangan kerja, dan kesejahteraan. Keberhasilan IPB University, menurutnya, harus tercermin dalam peningkatan kesejahteraan petani, nelayan, pembudidaya ikan, dan masyarakat desa.
Tiga Mesin Pendapatan
Untuk mewujudkan ketiga prinsip tersebut, IPB University akan menggerakkan tiga mesin pendapatan: pendidikan, kerja sama, dan bisnis. Ketiganya diarahkan untuk memperkuat kemandirian institusi sekaligus memastikan inovasi tidak berhenti di laboratorium.
Pada momentum Dies Natalis ke-63, IPB University juga memberikan apresiasi kepada petani dan masyarakat desa mitra yang berkontribusi dalam berbagai kegiatan dosen dan mahasiswa. Bagi IPB University, kolaborasi dengan masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan ilmu pengetahuan dan inovasi benar-benar memberikan manfaat.
“Inklusivitas, kemakmuran, dan keberlanjutan bukan sekadar tema. Ketiganya adalah arah yang harus menjadi cara kita bekerja,” pungkasnya. (dh)
