IPB University dan MRKS Intelligence Jepang Kembangkan Program “Orang Tua Asuh” Pohon Kopi Gayo
Fakultas Teknik dan Teknologi (FTT) IPB University dan perusahaan asal Jepang, MRKS Intelligence Inc, resmi menandatangani letter of intent (LoI), Jumat (28/8) di Kampus IPB Dramaga, Bogor.
LoI ini menjadi landasan awal pelaksanaan Program Orang Tua Asuh Pohon Kopi Gayo (Gayo Coffee Tree Foster-Parent Program) yang berlokasi di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh.
Penandatanganan dilakukan oleh Dekan FTT, Prof Slamet Budijanto, bersama Presiden dan CEO MRKS Intelligence Inc, Morihiko Sato. Turut disaksikan Prof Tajuddin Bantacut dari FTT dan Dr Rahmat Pramulya, Chief of Gayo Coffee Section dari CiCoFest.
Melalui program ini, para petani kopi di Kabupaten Bener Meriah telah menyediakan lahan seluas kurang lebih dua hektare yang diproyeksikan dapat menampung sekitar 3.200 pohon baru kopi arabika Gayo.
MRKS Intelligence memfasilitasi para sponsor dari Jepang, mulai dari individu, korporasi untuk program environmental, social, and governance (ESG), hingga sekolah dan universitas untuk pembelajaran Sustainable Development Goals (SDGs).
Para sponsor ini akan berperan sebagai “orang tua asuh” dengan pendanaan sekitar Rp 0,9 juta hingga Rp 1,6 juta per pohon setiap tahunnya. Dana ini digunakan untuk bibit, pohon penaung, dan perawatan lahan oleh petani secara langsung.
Selama masa pertumbuhan tiga tahun hingga panen perdana, para orang tua asuh akan menerima laporan pertumbuhan yang diverifikasi secara ilmiah, serta garansi penanaman kembali tanpa biaya tambahan apabila terdapat pohon yang mati.
Pelaksanaan inisiatif ini juga menggandeng mitra strategis lokal, yakni konsorsium CiCoFest Coffee Indonesia, Redelong Institute, serta Rumah Pangan Berkelanjutan.
“Prinsip dasar dari kolaborasi ini mengedepankan program sebagai sumber penghidupan bagi para petani, di mana riset dan penelitian ilmiah hadir untuk mendukung dan memastikan keberlanjutannya,” ujar Prof Slamet.
Dalam pelaksanaannya, FTT IPB University berperan memberikan supervisi dan verifikasi ilmiah yang independen. Perannya meliputi supervisi teknis penanaman baru seperti penentuan varietas (Gayo 1 atau Gayo 2), rancangan desain agroforestri dan tata pohon penaung, serta praktik budi daya input rendah.
“Kehadiran program ini akan menjadi ‘living lab’ jangka panjang bagi civitas akademika untuk menghasilkan data primer terkait praktik agroforestri terstandar dan model pembiayaan komunitas,” tambahnya.
Sementara itu, MRKS Intelligence Inc bertanggung jawab atas perancangan program keseluruhan, penetapan keputusan bisnis, serta penyusunan kontrak dengan kelompok tani.
Perusahaan juga berperan dalam pengelolaan dana sponsor serta penyalurannya kepada petani secara transparan, pengendalian mutu, aspek ekspor, hingga pengelolaan hubungan kemitraan dengan jejaring industri kopi di Jepang, termasuk importir specialty coffee seperti Umi no Mukou Coffee (Sakanotochu Group).
Sebagai langkah keberlanjutan dari LoI yang berlaku selama 12 bulan ini, FTT dan MRKS akan menyusun perjanjian kerja sama formal dan merampungkan protokol pemantauan. Fase selanjutnya mencakup pelaksanaan survei baseline lahan dan formalisasi kesepakatan bersama kelompok tani. Kemudian penanaman percontohan 50 hingga 100 pohon pertama pada musim tanam 2026/2027. (*/Rz)
