Mengenal Sorgum Bionusa, Varietas Unggul Hasil Riset IPB University dengan Potensi Produksi 5,79 Ton per Hektare 

Mengenal Sorgum Bionusa, Varietas Unggul Hasil Riset IPB University dengan Potensi Produksi 5,79 Ton per Hektare 

mengenal-sorgum-bionusa-varietas-unggul-hasil-riset-ipb-university-dengan-potensi-produksi-5-79-ton-per-hektare
Riset dan Kepakaran

IPB University mengembangkan sorgum Bionusa sebagai varietas unggul yang berpotensi mendukung diversifikasi pangan sekaligus penyediaan pakan. Varietas ini memiliki potensi hasil biji hingga 5,79 ton per hektare serta biomassa hijauan mencapai 45,5 ton per hektare.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Desta Wirnas, menjelaskan bahwa sorgum Bionusa dikembangkan dengan menggabungkan karakter unggul dua varietas nasional: Numbu dan Samurai 2.

Varietas Numbu dikenal banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, baik dalam bentuk biji maupun tepung, sedangkan Samurai 2 memiliki karakter yang sesuai untuk kebutuhan pakan.

“Dengan menyilangkan Numbu dan Samurai 2, karakter yang sesuai untuk pangan dan pakan diharapkan dapat digabungkan dalam satu varietas,” ujar Prof Desta.

Selain memiliki fungsi ganda, sorgum Bionusa juga dikembangkan untuk memperoleh potensi hasil yang tinggi. Berdasarkan hasil pengembangannya, varietas ini memiliki potensi hasil biji mencapai 5,79 ton per hektare, biomassa hijauan 45,5 ton per hektare pada tanaman utama, serta kadar nira sebesar 14,17 persen.

Adaptif di Berbagai Lahan
Keunggulan tersebut membuat sorgum Bionusa berpotensi dikembangkan pada berbagai kondisi lahan. Menurut Prof Desta, sorgum merupakan tanaman yang memiliki daya adaptasi luas sehingga dapat dibudidayakan pada lahan kering atau tegalan, baik pada lahan subur maupun lahan marjinal.

Karakter adaptif tersebut menjadi salah satu peluang penting bagi pengembangan sorgum di Indonesia. Terlebih, pemanfaatan lahan kering dapat menjadi alternatif dalam memperluas basis produksi pangan dan pakan tanpa terlalu bergantung pada lahan sawah.

Prof Desta menilai Indonesia memiliki peluang untuk menjadi salah satu produsen sorgum utama di kawasan Asia. “Seharusnya Indonesia bisa menjadi produsen dan eksportir sorgum karena teknologi budi daya sudah tersedia, varietas sudah banyak dengan berbagai keunggulan, serta ketersediaan lahan yang cukup, terutama lahan kering,” jelasnya.

Dengan dukungan teknologi budi daya, varietas unggul, dan pemanfaatan lahan kering, sorgum Bionusa menjadi salah satu inovasi yang dapat memperkuat pengembangan sorgum sebagai komoditas pangan dan pakan strategis di Indonesia. (dr)