Tingkat Kematian Unta Melonjak Akibat Suhu Bumi Makin Tinggi, Guru Besar IPB University: Sinyal Krisis Iklim
Selama dekade terakhir, suhu di gurun sering mencapai 50–55°C. Unta, hewan yang dikenal sangat tahan terhadap panas sekalipun, kini menghadapi tingkat kematian yang tinggi seiring peningkatan suhu ekstrem.
Pakar Genetika Ekologi IPB University Prof Ronny R Noor menyebut, dalam beberapa tahun terakhir suhu ekstrem di gurun menyebabkan unta mengalami luka lepuh, dehidrasi, gagal ginjal, hingga kematian.
Di Somalia, penelitian menunjukkan sekitar 73 persen unta meninggal di wilayah Sool. Sementara di Kenya, terjadi peningkatan kematian sebesar 15 persen dalam dua tahun terakhir akibat hipertermia.
“Fenomena suhu ekstrem yang meningkat di gurun pasir, sampai-sampai bahkan unta pun tidak mampu bertahan, benar-benar menunjukkan adanya krisis iklim yang sangat serius,” ujar Prof Ronny.
Menurut dia, tingginya angka kematian unta menjadi pertanda jelas bahwa perubahan iklim telah melampaui batas kemampuan alam untuk menyesuaikan diri. “Karena itu, kita perlu peduli serta mencari solusi untuk melindungi hewan-hewan berharga ini,” ajaknya.
Zona Homeostasis Unta
Prof Ronny menjabarkan, unta memiliki mekanisme fisiologis yang memungkinkan suhu tubuhnya berubah dari sekitar 34°C pada malam hari hingga 41°C pada siang hari tanpa harus banyak berkeringat. Mekanisme ini membantu mereka menghemat air.
Namun, ketika suhu lingkungan melewati 45°C, kemampuan tersebut mulai kurang efektif. Unta kemudian lebih banyak berkeringat, kehilangan cairan, dan mengalami tekanan panas.
“Pada suhu ekstrem di atas 50°C, bahkan unta yang sehat dapat mengalami hipertermia serius dalam beberapa jam jika tidak memiliki akses terhadap air atau tempat perlindungan. Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan kerusakan ginjal, gangguan metabolisme, hingga kegagalan organ,” ujar Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University ini.

Prof Ronny membeberkan, penyebab suhu ekstrem ini berasal dari perubahan iklim global yang didorong oleh peningkatan emisi gas rumah kaca, sehingga semakin memperkuat pemanasan global. Gelombang panas yang ekstrem, seperti suhu siang hari yang bisa mencapai 50–55°C, membuat mekanisme pendinginan tubuh unta menjadi kurang efektif.
Manusia pun Terdampak
Tekanan panas diperparah oleh kekeringan yang membuat sumber air mengering dan vegetasi gurun berkurang. Akibatnya, unta kehilangan sumber makanan dan air, sementara masyarakat turut kehilangan sumber daya penting berupa susu, daging, dan transportasi.
“Sayangnya, eksploitasi lahan dan desertifikasi semakin memperburuk kondisi ini, sehingga semuanya menjadi semakin sulit,” tambahnya.
Di Ethiopia, peternak di Afar bahkan melaporkan kehilangan delapan anak unta dalam sebulan akibat suhu ekstrem. Kondisi serupa menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya mengubah kondisi lingkungan, tetapi juga mengancam kehidupan masyarakat gurun dan budaya yang selama ini menjadikan unta sebagai bagian penting dari identitas mereka.
“Jika unta, simbol kekuatan gurun, tidak lagi mampu bertahan, masyarakat gurun seperti suku Badui di Sahara dan komunitas Bedouin di Timur Tengah tentunya akan menghadapi tantangan besar dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka.”
Perubahan tersebut dapat mendorong masyarakat beradaptasi melalui pengelolaan air, penggunaan tanaman tahan panas, hingga migrasi ke wilayah yang lebih nyaman. Pada saat yang sama, mereka menghadapi tantangan untuk mempertahankan tradisi dan identitas budaya di tengah perubahan ekologis.
Menurut Prof Ronny, fenomena ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan kenaikan suhu, tetapi juga tentang batas kemampuan makhluk hidup beradaptasi. Ketika makhluk hidup seperti unta pun mulai kesulitan bertahan di habitatnya sendiri, tekanan terhadap ekosistem gurun dan kehidupan masyarakat yang bergantung padanya semakin nyata. (*/Rz)
