Riset Mahasiswa S3 IPB University: Efikasi Diri Jadi Faktor Terkuat Penentu Kesejahteraan Psikologis Anak

Riset Mahasiswa S3 IPB University: Efikasi Diri Jadi Faktor Terkuat Penentu Kesejahteraan Psikologis Anak

riset-mahasiswa-s3-ipb-university-efikasi-diri-jadi-faktor-terkuat-penentu-kesejahteraan-psikologis-anak
Ilustrasi: magnific
Riset dan Kepakaran / Student Insight

Setiap orang tua tentu ingin anak tumbuh bahagia dan tangguh. Namun, kesejahteraan psikologis anak ternyata tidak hanya dipengaruhi lingkungan yang baik, tetapi juga oleh keyakinan sederhana dalam diri anak bahwa “saya mampu.”

Penelitian Zahro Malihah, mahasiswa IPB University Program Studi Doktor Ilmu Keluarga, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA) menunjukkan bahwa efikasi diri memiliki hubungan langsung paling kuat dengan kesejahteraan psikologis anak dibandingkan faktor lain yang diuji dalam model penelitian.

Temuan tersebut merupakan bagian dari disertasinya berjudul Model Peningkatan Efikasi Diri dan Kesejahteraan Psikologis Anak Usia Dini. Penelitian melibatkan 304 ibu yang memiliki anak usia 4–6 tahun dari 19 taman kanak-kanak di Kecamatan Bogor Barat. 

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri memiliki hubungan langsung paling kuat dengan kesejahteraan psikologis anak. Temuan ini membawa satu pesan penting bagi saya. Ketika kita berbicara tentang kesejahteraan psikologis anak, kita tidak cukup hanya melihat apakah lingkungan di sekitarnya sudah baik. Kita juga perlu melihat apakah pengalaman anak di rumah dan sekolah membantu tumbuhnya keyakinan bahwa dirinya mampu,” ujar Zahro.

Efikasi: Bukan Sekadar Percaya Diri
Menurutnya, efikasi diri berbeda dengan sekadar rasa percaya diri. Efikasi diri merupakan keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu melakukan suatu tindakan atau menghadapi tugas tertentu. Pada anak usia dini, keyakinan tersebut tumbuh melalui pengalaman sehari-hari, seperti mencoba mengenakan pakaian sendiri, menyelesaikan permainan, menghadapi kesulitan, hingga merasakan keberhasilan dari usahanya.

“Tujuannya bukan membuat anak selalu berhasil. Anak perlu mengalami bahwa tidak semua usaha langsung berhasil. Ia dapat menghadapi kesulitan, mencoba kembali, dan mendapat dukungan yang tepat. Dari pengalaman seperti itulah keyakinan ‘saya mampu’ dapat tumbuh,” katanya.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penguatan efikasi diri tidak dapat dipisahkan dari lingkungan tempat anak tumbuh. Di rumah, orang tua dapat memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba melakukan tugas sesuai usianya tanpa selalu mengambil alih ketika menghadapi kesulitan. Prinsip yang sama dapat diterapkan di pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui kegiatan bermain yang menantang, pemberian bantuan secara bertahap, serta penghargaan terhadap proses belajar, bukan hanya hasil akhirnya.

Zahro menuturkan, salah satu keunikan penelitian ini adalah kemampuannya mengintegrasikan delapan faktor yang berkaitan dengan anak, keluarga, dan lingkungan ke dalam satu model kesejahteraan psikologis anak usia dini sebagai dasar penyusunan model peningkatan.

Ketua Komisi Pembimbing, Prof Megawati Simanjuntak, menilai temuan tersebut membuka peluang bagi penelitian lanjutan.

“Kesejahteraan psikologis anak tidak terbentuk oleh satu faktor saja. Temuan tentang efikasi diri ini menarik karena menunjukkan bahwa kapasitas anak berkembang bersama pengalaman yang dibentuk keluarga dan lingkungannya. Ke depan, temuan ini perlu diuji lebih lanjut agar dapat diterjemahkan menjadi praktik yang benar-benar bermanfaat bagi keluarga dan PAUD,” ujarnya.

Zahro menegaskan bahwa penelitian ini masih perlu diuji pada wilayah dan karakteristik keluarga yang lebih beragam melalui studi lanjutan. Meski demikian, ia berharap hasil penelitiannya tidak berhenti sebagai model akademik.

“Pesan dasarnya sederhana, bahwa anak perlu memperoleh pengalaman bahwa dirinya mampu. Tugas orang dewasa bukan memastikan anak selalu berhasil, tetapi menyediakan lingkungan yang aman untuk mencoba, menghadapi kesulitan, mendapat dukungan, dan terus berkembang,” pungkasnya. (*/Rz)