Apakah Musth pada Gajah Sumatra Mematikan? Ini Penjelasan dan Penanganan Medisnya Menurut Pakar IPB University

Apakah Musth pada Gajah Sumatra Mematikan? Ini Penjelasan dan Penanganan Medisnya Menurut Pakar IPB University

apakah-musth-pada-gajah-sumatra-mematikan-ini-penjelasan-dan-penanganan-medisnya-menurut-pakar-ipb-university
Foto: WWF-Indonesia
Riset dan Kepakaran

Fenomena musth atau agresi reproduksi jantan pada gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) menjadi fokus perhatian Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor di Hari Gajah Sedunia pada 12 Agustus. 

Kenapa Gajah Sumatra Mengalami Musth?
Prof Ronny menjelaskan, musth adalah bagian alami dari siklus reproduksi gajah sumatra yang biasanya menandai peningkatan hormon testosteron 5-7 kali lipat.

Saat mengalami musth, gajah akan mengalami perubahan perilaku menjadi lebih agresif, penurunan nafsu makan, serta stres metabolik. Biasanya, fase ini berlangsung selama beberapa minggu hingga beberapa bulan, akan lebih lama jika habitatnya terganggu. 

“Gajah sumatra yang mengalami musth sering menyerang jantan lain dan tampak kesulitan mengendalikan diri. Selain itu, gajah juga tampak lebih aktif mencari betina dan menunjukkan dominasi dalam kelompok. Perilaku mereka pun menjadi lebih gelisah, sering mengibaskan telinga dan mengangkat kepala, yang menunjukkan adanya perubahan emosi yang signifikan,” jelas Prof Ronny.

Gajah sumatra jantan menunjukkan tanda musth sekitar usia 15–20 tahun saat matang secara seksual. Pada usia 10–15 tahun, tanda-tanda dapat muncul, tetapi lebih ringan. Musth paling intens pada jantan berusia 25–40 tahun, yaitu masa reproduksi puncak. Setelah >45 tahun, intensitasnya menurun.

Musth Bukan Penyakit
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University itu menekankan bahwa musth bukan penyakit, melainkan fase fisiologis yang normal pada gajah jantan dewasa. Namun, hormon dan perilaku ekstrem dapat menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani, terutama pada gajah sumatra yang lebih sering mengalami musth dibandingkan gajah afrika.

“Risiko dan komplikasi saat gajah mengalami fase musth dapat mencakup cedera akibat sifatnya yang lebih agresif,” ujar Prof Ronny.

Perlu Penanganan Tepat
Prof Ronny menegaskan, musth bisa berakibat fatal pada gajah sumatra jika tidak terkendali, sehingga perlu prosedur medis dan manajemen yang tepat, termasuk pemantauan hormon testosteron dan pengamatan perilaku untuk menilai tingkat keparahan.

“Pada tahap ini, penting untuk memberikan pakan berkualitas tinggi dan suplemen kepada gajah agar mereka tetap sehat dan tidak mengalami penurunan berat badan. Selain itu, jika gajah jantan sedang mengalami musth, sebaiknya mereka diisolasi dari kelompok dan manusia untuk mencegah terjadinya konflik,” jelas Prof Ronny.

Dalam situasi ekstrem, dokter hewan dapat melakukan sedasi ringan, perawatan luka, nutrisi, serta isolasi guna mencegah komplikasi mematikan. Prof Ronny menegaskan bahwa musth tidak langsung menyebabkan kematian, melainkan memicu komplikasi fatal jika diabaikan. 

“Prosedur medis dan manajemen konservasi kita lakukan dengan penuh perhatian, termasuk pemberian nutrisi, isolasi, pemantauan hormon, dan perawatan luka,” ujarnya.

Setelah kadar testosteron dan perilakunya stabil, gajah akan dikembalikan ke kelompoknya secara bertahap. Namun, Prof Ronny mengingatkan bahwa fasilitas medis di pusat konservasi seperti Taman Nasional Way Kambas, Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, dan Tangkahan masih perlu diperkuat di tengah ancaman penyempitan habitat, terutama fasilitas  

“Penting memperkuat fasilitas medis di pusat konservasi, seperti laboratorium hormon, ruang isolasi, dan peralatan infus guna mencegah komplikasi fatal dan menjamin keselamatan gajah sumatera selama menjalani masa musth,” tegasnya. (MHT)