CI-BEST IPB University dan BI Resmikan RMU dan Vertical Dryer Beras di PP Al Ashriyyah Nurul Iman Bogor
Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CI-BEST) IPB University bersama Bank Indonesia meresmikan rice milling unit (RMU) dan vertical dryer komoditas beras di Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman (PPNI), Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan model ketahanan pangan berbasis pesantren yang mengintegrasikan inovasi teknologi pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kelembagaan ekonomi pesantren.
Peresmian ini merupakan bagian dari pendampingan Program Kemandirian Ekonomi Pesantren Berbasis Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNIP) Komoditas Beras. Fasilitas tersebut hadir untuk mendukung peningkatan kualitas pengolahan gabah menjadi beras dengan kualitas premium yang siap dikomersialkan dengan merek BERNI (Beras Nurul Iman).
Perwakilan CI-BEST sekaligus Koordinator Rumpun Peneliti Padi IPB University, Prof Ahmad Junaedi menyatakan bahwa pembangunan RMU dan vertical dryer dapat membantu pondok pesantren dalam meningkatkan kapasitas produksi komoditas beras. Selain itu, fasilitas ini juga dapat dimanfaatkan oleh mitra pesantren lain guna mendorong kemandirian ekonomi pesantren.
“Tahun lalu kami juga sudah melakukan pelatihan dan pemasangan automatic weather station (AWS). Pemasangan AWS bertujuan untuk meningkatkan akurasi informasi iklim mikro di lahan uji serta mendukung kegiatan bimbingan teknis bagi petani dan siswa sebagai media pembelajaran berbasis teknologi,” ujarnya.
Pimpinan PPNI, Umi Waheeda, menjelaskan peran aktif organisasi tersebut dalam meningkatkan ekosistem ekonomi pesantren, salah satunya melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selama ini, PPNI memanfaatkan bahan baku seperti beras, sayuran, dan ayam yang diambil langsung dari hasil produksi pesantren.
“Kami mulai bekerja sama dengan BI saat diundang oleh Gubernur BI pada tahun 2016 dalam rangka diskusi terkait potensi pesantren dalam perkembangan ekonomi syariah. Saat itu, PPNI diundang karena merupakan salah satu pesantren terbesar di Indonesia dan mewakili Jawa Barat dengan jumlah santri mencapai 15.000 orang. Dukungan yang diberikan berlanjut hingga pengembangan RMU dan vertical dryer,” jelasnya.
Arya Prana Hutama, mewakili Departemen Ekonomi dan Keuangan (DEKS) Bank Indonesia memaparkan, pondok pesantren tidak hanya bisa berperan untuk menciptakan ahli agama tapi juga untuk mendukung ekonomi bangsa Indonesia.
Selanjutnya, Yendra Efita, MP dari Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karawang juga menyampaikan bahwa peresmian RMU dan forum sinergi merupakan langkah strategis dalam memperkuat rantai nilai komoditas beras sekaligus mendorong kemandirian ekonomi pesantren.
Tidak hanya mendukung ketahanan pangan dan stabilitas harga beras, ia menilai langkah strategis ini dibutuhkan untuk menciptakan peluang usaha produktif yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar. (*/Rz)
