IPB University Perkuat Transisi Energi Nasional Lewat Riset dan Inovasi Berbasis Sumber Daya Hayati

IPB University Perkuat Transisi Energi Nasional Lewat Riset dan Inovasi Berbasis Sumber Daya Hayati

ipb-university-perkuat-transisi-energi-nasional-lewat-riset-dan-inovasi-berbasis-sumber-daya-hayati.jpg
Berita

Dalam rangka memperkuat transisi energi nasional berbasis sains dan inovasi, IPB University menyelenggarakan Sarasehan Energi bertema “Transisi Energi dalam Memitigasi Konflik Global” di Gedung Startup Center, Kampus Taman Kencana, Bogor (10/6). Kegiatan ini bertujuan untuk penguatan pemahaman dan sinergi para pemangku kepentingan dalam implementasi kebijakan energi nasional.

Wakil Rektor IPB University Bidang Resiliensi Sumberdaya dan Infrastruktur, Dr Heti Mulyati, mengatakan bahwa dinamika geopolitik dunia, termasuk meningkatnya ketegangan internasional yang memengaruhi rantai pasok energi, menjadikan transisi energi sebagai agenda yang tidak dapat ditunda. 

Menurutnya, ketahanan energi berkaitan erat dengan ketahanan nasional, keberlanjutan pembangunan, serta keadilan bagi masyarakat.

“Sebagai perguruan tinggi berbasis agromaritim, IPB University memiliki kapasitas riset yang kuat untuk mendukung transisi energi melalui pengembangan biomassa, bioenergi, biomaterial, teknologi proses berbasis sumber daya hayati, hingga kebijakan energi berkelanjutan,” ujar Dr Heti.

Dr Heti melanjutkan, saat ini IPB University juga tengah mengembangkan proyek Agri-Photovoltaic bekerja sama dengan Korea Selatan melalui fasilitas pembangkit listrik tenaga surya di Kampus Dramaga dan Sekolah Bisnis IPB University sebagai model integrasi lahan pertanian dengan energi terbarukan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional, Dr Dadan Kusdiana, menegaskan bahwa sarasehan ini merupakan bagian dari arahan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk menyampaikan secara langsung kepada masyarakat mengenai kebijakan energi nasional yang sedang dijalankan pemerintah.

Menurutnya, sektor energi memiliki hubungan yang sangat erat dengan ketahanan pangan. “Sektor energi sangat erat kaitannya dengan sektor pertanian. Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta ton pupuk setiap tahun, sementara pupuk diproduksi menggunakan gas alam. Artinya, ketahanan energi secara langsung menopang ketahanan pangan.”

Oleh karena itu, ia menegaskan, “kolaborasi dengan IPB University menjadi sangat strategis, baik dalam pengembangan biofuel, biomassa maupun inovasi energi berbasis sumber daya hayati.”

Ia menambahkan, pemerintah juga berharap IPB University terus berkontribusi dalam pengembangan bioetanol, biogas, biomassa, wood pellet, hingga teknologi co-firing sebagai bagian dari percepatan transisi energi nasional. 

Menurutnya, pemanfaatan biomassa berpotensi menciptakan jutaan ton kebutuhan bahan baku baru, menyerap tenaga kerja, mengurangi emisi karbon, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.

Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional, Dr Satya Widya Yudha, menambahkan bahwa hasil riset IPB University turut mempercepat implementasi program B40 melalui uji jalan sejauh 50 ribu kilometer, penyusunan standar mutu, dan evaluasi performa mesin. 

Ia menyebut Indeks Ketahanan Energi Indonesia tahun 2025 mencapai 7,13 dari skala 10, meningkat 0,39 poin dibandingkan 2024. Sementara realisasi biodiesel telah mencapai 14,2 juta kiloliter, yang mampu menekan impor solar sebesar 3,3 juta kiloliter dengan potensi penghematan devisa sekitar Rp49,5 triliun.

Dalam paparannya, Dr Satya juga mengungkapkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar, di antaranya impor liquefied petroleum gas (LPG) mencapai sekitar 80,6 persen konsumsi domestik, impor minyak mentah sebesar 38,7 persen, serta impor BBM sebesar 34,2 persen dari kebutuhan nasional. 

Karena itu, ia mendorong percepatan implementasi B50, pengembangan bioetanol generasi kedua (biomassa), mikroalga, hingga smart grid berbasis kecerdasan buatan sebagai bagian dari strategi menuju kedaulatan energi. (dr)