Wamenkeu dan Ketua Dewan Komisioner LPS Berbagi Strategi Fiskal dan Kepemimpinan dalam Dies FEM IPB University

Wamenkeu dan Ketua Dewan Komisioner LPS Berbagi Strategi Fiskal dan Kepemimpinan dalam Dies FEM IPB University

fem-ipb-university-hadirkan-wamenkeu-dan-ketua-dewan-komisioner-lps-dalam-ministerial-and-top-executive-lecture-series.jpg
Berita

Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University menyelenggarakan Ministerial and Top Executive Lecture Series dalam rangka Dies Natalis FEM IPB University ke-25 di Auditorium Andi Hakim Nasoetion (AHN), Kampus IPB Dramaga, Bogor (29/30).

Kegiatan ini menghadirkan dua tokoh nasional, yakni Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) RI, Dr Juda Agung, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) RI, Prof Anggito Abimanyu, Keduanya berbagi wawasan mengenai kebijakan fiskal dan kepemimpinan di sektor keuangan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.

Acara dibuka oleh Dekan FEM IPB University, Prof Irfan Syauqi Beik, serta Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet. Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul sekaligus merumuskan solusi atas berbagai tantangan pembangunan. 

Menurut dia, ketahanan fiskal, kepercayaan institusional, dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci menghadapi dinamika global. Mengutip artikel Harvard Business Review edisi Spring 2026, ia menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini tidak lagi bersifat linear, melainkan memerlukan kombinasi berbagai kebijakan yang saling mendukung. 

“Karena itu, perguruan tinggi perlu memperkuat riset berbasis data dan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif untuk menjawab tantangan pembangunan nasional,” ujarnya.

Fundamental Ekonomi Kuat
Dalam kuliah umum bertajuk “Strategi Mengelola Fiskal di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global”, Dr Juda Agung menjelaskan bahwa dunia masih menghadapi ketidakpastian akibat perang dagang, konflik geopolitik, dan gejolak harga energi. Namun, menurutnya, Indonesia masih memiliki fundamental ekonomi yang kuat dengan inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang solid, serta kondisi fiskal yang terjaga

“Kalau melihat indikator-indikator utama, Indonesia saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda krisis,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah menjalankan strategi fiskal melalui tiga fokus utama, yaitu mendorong penerimaan negara, mengendalikan belanja, dan melakukan diversifikasi pembiayaan. Menurutnya, kebijakan menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi turut membantu mengendalikan inflasi pada level 2,42 persen sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.

Dr Juda juga mengajak mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan berbasis data dalam menghadapi perubahan global serta mendukung terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.

Pengetahuan dan Kepemimpinan
Pada sesi berikutnya, Prof Anggito Abimanyu menyampaikan kuliah umum bertajuk “Knowledge dan Leadership dalam Sektor Keuangan”. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan kemampuan kepemimpinan.

Menurutnya, pengetahuan dan kompetensi profesional perlu diimbangi dengan integritas, kemampuan komunikasi, serta keberanian menghadapi tantangan. “Pengetahuan membuat seseorang mampu bekerja secara profesional, sedangkan kepemimpinan membuat seseorang dipercaya, dihormati, dan mampu membawa perubahan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya penguasaan kompetensi baru di sektor keuangan, seperti big data analytics, artificial intelligence, machine learning, fintech, keamanan siber, dan manajemen risiko. Di tengah percepatan transformasi digital, mahasiswa perlu membekali diri dengan keterampilan multidisiplin agar mampu bersaing dan berkontribusi dalam pembangunan ekonomi nasional.

Kegiatan ini turut menjadi momentum penguatan sinergi antara IPB University dan LPS RI melalui penandatanganan kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, pengembangan sumber daya manusia, program magang, serta kajian kebijakan strategis. (Fj)