Membanggakan! Tim Mahasiswa IPB University ‘MITR Club’ Raih First Place Winner IEEE OES 2026
Prestasi membanggakan diraih oleh mahasiswa IPB University di kancah internasional. Mahasiswa Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK) yang tergabung dalam Marine Instrumentation, Telemetry, and Robotics (MITR) Club berhasil meraih First Place Winner dalam ajang IEEE OES Ocean Decades Challenge 2026.
Capaian tersebut diraih berkat inovasi “Passive Acoustic Monitoring for Real-Time Rapid Soundscape Health Index” untuk pemantauan kesehatan ekosistem laut secara real-time. Melalui sistem ini, kondisi ekosistem laut diamati dengan cara merekam dan menganalisis suara bawah air atau underwater soundscape. Data suara tersebut kemudian diolah dan dianalisis untuk mengenali kontribusi suara biologis, suara alami lingkungan, serta suara dari aktivitas manusia.
Atas prestasi tersebut, tim MITR IPB University diundang untuk mempresentasikan hasil proyeknya dalam IEEE OES Summer School 2026 dan konferensi internasional OCEANS 2026 yang diselenggarakan di Sanya, Hainan, Tiongkok pada 22–29 Mei 2026. Kegiatan ini merupakan forum global bagi para profesional, peneliti, dan inovator yang berasal dari Indonesia, Singapura, Tiongkok, Korea Selatan, India, Jerman, Italia, Pakistan, dan Uni Emirat Arab.
Sebelum dinyatakan sebagai pemenang pertama, tim terlebih dahulu terpilih sebagai salah satu finalis Top 4 dan memperoleh pendanaan riset sebesar $2.000 USD dari IEEE untuk mengimplementasikan solusi yang diusulkan. Sebagai pemenang, tim juga akan menerima dana sebesar $6.000 USD. Program Ocean Challenge ini dirancang sebagai kompetisi dua tahap, dimulai dari pengajuan proposal dan video proposal, kemudian dilanjutkan dengan implementasi produk, video progres, dan presentasi akhir.
Beranggotakan Daniel Hermans Manurung, Tiara Anggraeni, Nabila Aishi Octaviana, Muhammad Ridha Ramadhan, Akbar Hannan Ibrahim, tim ini mendapatkan bimbingan dari Prof Indra Jaya dan Muhammad Iqbal, SPi, MSi.
Ketua tim, Daniel Hermans, menjelaskan bahwa gagasan ini berangkat dari kebutuhan akan teknologi pemantauan ekosistem laut yang lebih kontinu, non-invasif, dan dapat diterapkan di wilayah pesisir.
“Laut menyimpan banyak informasi melalui suara. Melalui pendekatan akustik pasif, kami ingin menghadirkan sistem yang tidak mengganggu ekosistem, tetapi tetap mampu memberikan gambaran cepat mengenai kondisi lingkungan bawah air,” ujarnya.”
Ia menambahkan, proyek penelitian ini tidak hanya berfokus pada perekaman suara bawah air, tetapi juga pada bagaimana data akustik dapat diterjemahkan menjadi indikator yang lebih mudah dipahami untuk mendukung pengambilan keputusan.
“Kami mengembangkan sistem yang dapat membantu membaca perubahan soundscape secara real-time. Harapannya, teknologi ini dapat menjadi salah satu instrumen observasi laut yang mendukung konservasi, restorasi, dan pengelolaan ekosistem pesisir,” tambahnya.
Pemilihan isu ini sejalan dengan United Nations Decade of Ocean Science for Sustainable Development 2030, khususnya Ocean Decade Challenge 2 tentang perlindungan dan restorasi ekosistem serta biodiversitas, dan Ocean Decade Challenge 7 tentang perluasan sistem observasi laut global. IEEE OES Ocean Challenge sendiri memang ditujukan untuk mendorong mahasiswa dan profesional muda menciptakan solusi inovatif bagi tantangan utama kelautan dunia.
Sistem ini telah diuji pada ekosistem laguna tropis di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, yang memiliki dinamika aktivitas manusia dan kondisi lingkungan yang kompleks. Melalui data akustik yang terekam, tim dapat mengamati perubahan komposisi soundscape, termasuk meningkatnya kontribusi suara antropogenik pada periode aktivitas manusia serta perubahan suara lingkungan saat terjadi kondisi alam tertentu.
Dosen pembimbing, Prof Indra Jaya juga menyampaikan bahwa, “Melalui proyek penelitian ini, mahasiswa ITK IPB University menunjukkan bahwa klub MITR yang berbasis engineering tidak hanya bergerak pada pengembangan robotika bawah air dan instrumentasi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap isu ekologis dan keberlanjutan kesehatan ekosistem laut.”
Ia berujar, pendekatan teknologi yang dikembangkan menjadi bentuk kontribusi mahasiswa dalam menjawab permasalahan nyata di perairan pesisir, khususnya kebutuhan akan sistem pemantauan laut yang lebih adaptif, efisien, dan berbasis data.
IEEE merupakan organisasi profesi keteknikan terbesar di dunia dengan anggota 500.000 lebih profesional. Keberhasilan historis tim MITR ini telah membuktikan bahwa mengenal lebih jauh suara laut dapat menjadi dasar inovasi untuk memahami, memantau, dan melindungi ekosistem laut secara lebih berkelanjutan.
