IPB University Susun Roadmap Implementasi GEDSI melalui Program PRIME STeP Gender Analysis 2026

IPB University Susun Roadmap Implementasi GEDSI melalui Program PRIME STeP Gender Analysis 2026

ipb-university-susun-roadmap-implementasi-gedsi-melalui-program-prime-step-gender-analysis-2026.jpg
Berita

IPB University melalui Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) bersama Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) melangsungkan pembahasan terkait implementasi Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) melalui program Promoting Research and Innovation through Modern and Efficient Science and Technology Parks Project (PRIME STeP) Gender Analysis 2026. 

Acara ini dilaksanakan melalui penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) di IPB International Convention Center, belum lama ini. FGD merupakan langkah strategis dalam penyusunan roadmap implementasi GEDSI di lingkungan IPB University periode 2026–2030.

Wakil Kepala LPA2I Bidang Pengembangan Agromaritim dan Science Technopark, Prof Tri Prartono menyebutkan bahwa IPB University telah memiliki Peraturan Rektor terkait implementasi GEDSI dan kini sedang melangkah pada tahap penyusunan roadmap agar implementasinya diperluas secara nyata di seluruh unit kerja.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Lembaga Riset Internasional Pembangunan Sosial, Ekonomi, dan Kawasan, Prof Arya Hadi Dharmawan, juga menyampaikan, “Implementasi GEDSI tidak hanya berkaitan dengan kesetaraan gender, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan mental, aksesibilitas, fasilitas kampus yang mendukung kebutuhan kelompok rentan, hingga terciptanya lingkungan akademik yang aman.”

Dalam paparan mengenai sasaran dan strategi roadmap, Kepala PKGA, Dr Yulina Eva Riany merefleksikan catatan dari program sebelumnya.

“Jika melihat hasil pemetaan dan evaluasi penerapan Pengarusutamaan Gender (PUG) berbasis GEDSI di IPB tahun 2025, berbagai tantangan nyata masih kita hadapi. Tantangan tersebut mencakup aspek kebijakan dan sistem, fasilitas dan infrastruktur, budaya sosial, hingga perlindungan bagi seluruh sivitas akademika,” jelas Dr Yulina.

FGD ini menghasilkan arah tahapan implementasi GEDSI IPB 2026–2030, dimulai dari penguatan fondasi kelembagaan pada 2026, integrasi sistem pada 2027, perluasan lintas unit pada 2028, penguatan mutu dan akuntabilitas pada 2029, hingga pelembagaan GEDSI secara menyeluruh pada 2030.

Selain itu, berbagai usulan strategis turut disampaikan, seperti penyediaan ruang menyusui yang nyaman dan memadai, fasilitas ramah lansia dan disabilitas, ruang konseling, peningkatan keamanan kampus, integrasi perspektif GEDSI dalam kurikulum, hingga pelatihan kepemimpinan perempuan. 

Melalui kolaborasi antara LPA2I dan PKGA dalam Program PRIME STeP Gender Analysis 2026, IPB University diharapkan mampu menjadi pionir kampus yang menerapkan prinsip GEDSI secara berkelanjutan dan berdampak nyata bagi seluruh pihak di lingkungan akademik. Penguatan kelembagaan, dukungan pimpinan, serta keterlibatan lintas unit menjadi fondasi utama dalam mewujudkan lingkungan kampus yang aman dan setara. (*/Rz)