IPB University Dorong Kolaborasi Global Ekonomi Biru melalui Inflection 2026
IPB University memperkuat posisinya sebagai pemimpin Global South di bidang kemaritiman, kelautan, dan perikanan melalui penyelenggaraan The 2nd International Conference on Blue Economy and Techno Socio Environmental Innovation (Inflection 2026). Acara dilaksanakan di Kampus IPB Taman Kencana, Kota Bogor, (19/5).
Konferensi internasional ini menghadirkan peserta dan pembicara dari berbagai negara, di antaranya Malaysia, Filipina, Vietnam, Jepang, Tiongkok, Australia, Turki, Pakistan, Afganistan, Jerman, Hongkong, dan Tanzania. Forum ini menjadi ruang kolaborasi riset, inovasi, sekaligus penguatan jejaring internasional dalam pengembangan ekonomi biru.
Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan, menyambut positif konferensi ini dan menegaskan bahwa ekonomi biru tidak dapat dipandang semata dari aspek ekonomi.
“Ekonomi biru tidak boleh hanya dilihat dari sudut pandang ekonomi semata, melainkan harus dipahami sebagai kesatuan sosial-ekologis, teknologi, dan akademis. Sains dan teknologi harus terhubung dengan kebutuhan masyarakat nyata secara inklusif,” ujarnya.
Konferensi ini diharapkan menjadi wadah dialog ilmiah global, platform regional untuk memperkuat pembangunan berkelanjutan di ASEAN, serta katalis lahirnya inovasi baru dan tindakan kolektif dalam membangun ekonomi yang produktif, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB, Prof Yonvitner, menyebut Inflection 2026 sebagai momentum penting untuk memperluas kolaborasi riset.
“Inflection ini merupakan salah satu momen untuk merepresentasikan capaian-capaian kita. PKSPL nantinya akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai peneliti nasional dan internasional terkait blue economy,” ujarnya.
Ia menambahkan, forum ini juga memperkuat konektivitas antara sivitas akademika IPB dengan mahasiswa, pembicara, serta mitra internasional, sekaligus meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam forum global.
Sementara itu, Prof Luky Adrianto, Kepala Lembaga Riset Internasional Kemaritiman, Kelautan, dan Perikanan (LRI-iMAR), menegaskan bahwa Inflection 2026 menjadi wahana untuk meningkatkan posisi IPB University sebagai pemimpin Global South, khususnya di kawasan Asia Pasifik.
“Ekonomi biru bukan hanya kerangka konseptual atau teoritis, tetapi harus diimplementasikan dan dilokalisasi agar memberikan dampak nyata, baik terhadap ekologi maupun sosial ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa riset dan inovasi harus memberikan dampak langsung. Riset dan inovasi tidak hanya soal publikasi, tetapi juga bagaimana dampaknya dapat dirasakan masyarakat secara sosial dan ekonomi,” katanya.
Dalam forum ini, IPB University juga menegaskan penguatan hilirisasi riset mikroalga melalui Asosiasi Mikroalga Indonesia (ASMI), sebagai wadah kolaborasi antara peneliti, akademisi, industri, dan pelaku usaha.
Melalui Inflection 2026, IPB University berharap dapat memperluas kolaborasi internasional, memperkuat diplomasi maritim, serta menghadirkan inovasi riset yang berdampak nyata bagi masyarakat pesisir, pulau, sungai, dan kawasan perairan lainnya. (*/Rz)
