PKSPL IPB University Jadi Koordinator Perumusan Regional Methodology Blue Carbon Lintas Negara

PKSPL IPB University Jadi Koordinator Perumusan Regional Methodology Blue Carbon Lintas Negara

pkspl-ipb-university-jadi-koordinator-perumusan-regional-methodology-blue-carbon-lintas-negara
Berita

Kawasan pesisir dan laut di Asia Timur menghadapi tekanan yang semakin kompleks akibat perubahan iklim, degradasi ekosistem, dan meningkatnya aktivitas manusia. Dalam konteks ini, ekosistem karbon biru (blue carbon) menjadi pendekatan strategis yang tidak hanya berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim, tetapi juga memperkuat ketahanan ekosistem pesisir dan mendukung ekonomi biru berkelanjutan.

Menjawab tantangan tersebut, Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) IPB University mengoordinasikan 25 Learning Centres dalam kegiatan PNLC Regional Workshop: From Knowledge to Action: Scaling Blue Carbon Initiatives in the East Asian Region serta 5th PNLC General Assembly yang diselenggarakan di Antipolo dan Manila, Filipina (24–27/3). 

Workshop ini diikuti lebih dari 45 peserta dari 10 negara di kawasan East Asian Seas, termasuk Indonesia, Filipina, Vietnam, Thailand, Kamboja, Laos, China, Hongkong, dan Timor Leste. 

Kegiatan berfokus untuk menjembatani kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan implementasi kebijakan, sekaligus menyosialisasikan metodologi regional blue carbon yang dikembangkan oleh TWG Blue Carbon PRF PEMSEA dan PNLC.

Kegiatan dipimpin oleh PNLC Secretariat yang berbasis di PKSPL IPB University dan dihosting oleh University of the Philippines–Marine Science Institute (UP-MSI), bekerja sama dengan PEMSEA Resource Facility (PRF). 

Prof Yonvitner, sebagai Kepala PKSPL IPB University sekaligus Presiden PNLC menegaskan peran strategis PKSPL sebagai penggerak utama dalam pengembangan pengetahuan blue carbon, sekaligus koordinator regional PNLC.

“Partisipasi aktif PKSPL IPB menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu leading dalam pengembangan ilmu, kebijakan, dan implementasi pengelolaan pesisir di kawasan,” ungkapnya. 

Ia mengatakan, “Ke depan, sinergi PNLC diharapkan menghasilkan program konkret yang berdampak luas serta memperkuat kontribusi terhadap agenda global perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan berbasis laut.”

Diskusi menekankan pentingnya standardisasi metodologi yang tidak hanya berbasis ilmiah, tetapi juga terintegrasi dengan kebijakan, pembiayaan, dan sistem data berkelanjutan. Selain itu, kolaborasi regional dan keterlibatan generasi muda menjadi kunci untuk mendorong transformasi dari pengetahuan menjadi aksi nyata.

Peneliti PKSPL IPB University, Dr Akhmad Solihin dalam forum tersebut menekankan pentingnya integrasi valuasi jasa ekosistem ke dalam kebijakan publik dan mekanisme pembiayaan seperti carbon trading serta kontribusi terhadap target NDC. Sementara itu, Isdahartati fasilitator PNLC Secretariat menyampaikan capaian dan rencana kerja yang berfokus pada capacity building, penguatan jejaring, dan pertukaran pengetahuan.

Pada puncak kegiatan, 5th PNLC General Assembly dihadiri 21 dari 25 anggota PNLC. Pertemuan ini membahas capaian program, implementasi SDS-SEA 2023–2030, serta arah strategis ke depan. Hasilnya mencakup rencana jangka pendek berupa pelatihan dan pembentukan technical working group, serta jangka panjang berupa riset kolaboratif, harmonisasi metodologi, dan implementasi proyek percontohan blue carbon.