Tingkatkan Literasi Finansial, FEM IPB University Resmikan IPB Investment Club
Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University bekerja sama dengan Sinarmas Sekuritas sukses menyelenggarakan agenda Sekolah Pasar Modal. Acara yang berlangsung secara daring pada Rabu (11/3) ini tidak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga menandai tonggak penting dengan diluncurkannya IPB Investment Club.
IPB Investment Club hadir sebagai wadah strategis bagi dosen dan tenaga kependidikan (tendik) di lingkungan IPB University untuk belajar serta mempraktikkan investasi mandiri di pasar modal secara aman dan terukur.
Optimalisasi Galeri Investasi
Dalam sambutan pembukaan, Dekan FEM IPB University, Prof Irfan Syauqi Beik, menyampaikan apresiasi atas pencapaian Galeri Investasi FEM yang selama ini telah mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Ia menekankan bahwa fasilitas fisik yang mumpuni harus dibarengi dengan aktivitas yang inklusif bagi seluruh civitas akademika.
“Kami berharap fasilitas Galeri Investasi yang sudah bagus ini dapat diisi dengan beragam aktivitas terkait investasi bagi seluruh keluarga besar IPB University. Pendirian IPB Investment Club diharapkan menjadi motor penggerak dalam mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas tersebut,” ujar Prof Irfan.
Waspada Investasi Bodong
Sesi materi pertama diisi oleh Hendra Pamungkas dari Market Development Bursa Efek Indonesia (BEI). Hendra memberikan peringatan keras mengenai maraknya investasi bodong yang kini menyasar lintas kalangan tanpa memandang latar belakang pendidikan.
“Investasi bodong dapat dialami oleh siapa saja. Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan adalah kunci. Jangan pernah berhenti belajar,” tegas Hendra. Selain itu, ia juga mengupas tuntas perbedaan fundamental antara pasar modal konvensional dan pasar modal syariah, memberikan wawasan bagi peserta untuk memilih instrumen yang sesuai dengan prinsip keyakinan mereka.
Mengenali Profil Risiko dan Strategi Ekonomi
Melanjutkan sesi kedua, Ike Widiawati, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas, memaparkan ragam instrumen investasi di pasar modal beserta karakteristik uniknya. Ike menekankan bahwa tidak ada instrumen yang “satu ukuran untuk semua” (one size fits all).
“Sangat penting bagi setiap investor untuk mengenali profil risiko masing-masing sebelum terjun ke pasar. Dengan memahami batas toleransi risiko, kita dapat memilih instrumen yang paling sesuai dengan tujuan finansial kita,” jelas Ike. Ia juga membagikan strategi praktis mengenai cara mengelola portofolio investasi agar tetap tangguh di tengah berbagai kondisi ekonomi yang fluktuatif.
Antusiasme Peserta
Meski dilaksanakan secara online, antusiasme peserta tidak surut. Diikuti oleh lebih dari seratus peserta, suasana diskusi berlangsung sangat dinamis. Banyaknya pertanyaan kritis yang diajukan oleh para dosen dan tendik menunjukkan besarnya minat civitas akademika dalam mendalami mekanisme pasar modal sebagai alternatif pengelolaan keuangan masa depan.
Dengan kehadiran IPB Investment Club ini, diharapkan dapat menjadi pionir dalam penguatan literasi keuangan di lingkungan perguruan tinggi, sekaligus menciptakan ekosistem investasi yang sehat dan edukatif. (*/Rz)
