Orang Tua Perlu Tahu, Pakar Gizi IPB University Sebut Susu Kental Manis Bukan untuk Konsumsi Harian
Banyak keluarga di Indonesia masih menjadikan susu kental manis (SKM) sebagai minuman susu harian, terutama saat sarapan. Padahal, produk ini sebenarnya tidak dirancang untuk dikonsumsi sebagai pengganti susu karena kandungan gulanya jauh lebih tinggi dibandingkan susu segar maupun susu ultra high temperature (UHT).
Dr dr Karina Rahmadia Ekawidyani, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, mengatakan bahwa SKM merupakan produk olahan susu yang dibuat dengan mengurangi kadar air dan menambahkan gula dalam jumlah besar, yakni sekitar 40–50 persen. Karena itu, mengonsumsi SKM setiap hari bisa menimbulkan risiko kesehatan.
“Karena komposisi susunya sudah jauh lebih rendah, kandungan protein dan lemaknya juga tidak sesuai jika dikonsumsi sebagai susu harian, maka kalau dijadikan susu minum utama, ada risiko kesehatan,” ujarnya dalam program IPB Pedia di kanal YouTube IPB TV.
Tinggi Kandungan Gula
Menurut Dr Karina, dibandingkan susu segar dan susu UHT, kandungan gizi SKM relatif lebih rendah. Meski tetap mengandung lemak dan protein, jumlahnya belum mencukupi kebutuhan gizi harian, sehingga anggapan bahwa produk ini setara dengan susu minum tidak tepat.
Ia menjelaskan bahwa hampir setengah kandungan SKM adalah gula. Dalam satu takaran saji sekitar 30 gram atau setara tiga sendok makan, terdapat kurang lebih 15 gram gula. Sementara itu, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan dalam pedoman gizi seimbang adalah 50 gram.
“Artinya, jika seseorang mengonsumsi sekitar sembilan sendok makan SKM dalam sehari, jumlah tersebut sudah mencapai batas konsumsi gula harian,” jelasnya.
Dr Karina juga mengingatkan masyarakat untuk selalu memperhatikan takaran saji pada kemasan dan menggunakan sendok takar agar konsumsi gula tetap terkontrol. “Jangan langsung menuangkan dari kaleng. Dengan menakar, kita bisa mengetahui batas penggunaannya,” tambahnya.
Lebih Tepat Pelengkap Makanan
Ia menegaskan bahwa fungsi utama SKM adalah sebagai pemanis atau pelengkap rasa pada makanan dan minuman, bukan sebagai pengganti susu konsumsi sehari-hari, apalagi bagi anak-anak.
Saat bulan puasa, minuman manis memang sering dipilih saat berbuka. Namun, Dr Karina mengingatkan agar penggunaan SKM tetap dibatasi. “Kalau sudah menggunakan SKM yang tinggi gula, sebaiknya tidak menambahkan gula pasir atau sirup lagi agar asupan gula tetap seimbang,” katanya. (Fj)
