Night Terror Bukan Kesurupan, Ini Penjelasan Ilmiah Dosen FKGiz IPB University
Fenomena anak berteriak histeris saat tidur atau tampak sangat ketakutan tanpa sebab yang jelas kerap menimbulkan kepanikan di kalangan orang tua. Belakangan, istilah ‘night terror’ ini ramai diperbincangkan di masyarakat dan media sosial.
Menanggapi hal ini, dr Yeni Quinta Mondiani, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, memberikan penjelasan ilmiah agar masyarakat tidak salah persepsi.
“Tidur merupakan fungsi biologis yang sangat penting karena berperan dalam pemulihan fisik dan perkembangan sistem saraf anak,” kata dr Yeni mengawali penjelasan.
Secara normal, ia menjelaskan, tidur terdiri atas beberapa fase, yaitu fase non-rapid eye movement (NREM) dan fase rapid eye movement (REM). Fase tidur dalam atau deep sleep terjadi pada fase 3 dan 4 Non-REM. Pada fase inilah tubuh melakukan proses restorasi dan pemulihan.
“Gangguan seperti night terror termasuk dalam kelompok parasomnia, yakni gangguan bangun parsial dari fase Non-REM sebagaimana diklasifikasikan oleh American Academy of Sleep Medicine,” jelasnya.
Ia menambahkan, “Sleep terror atau night terror umumnya muncul pada sepertiga awal malam, sekitar 60–90 menit setelah anak tertidur,” ujarnya.
Gejala yang muncul bisa berupa anak tiba-tiba berteriak karena panik, tampak sangat ketakutan, menangis, gelisah, jantung berdebar, napas cepat, hingga berkeringat. Pada saat kejadian, anak biasanya sulit dibangunkan dan tidak merespons ketika ditenangkan.
“Setelah episode berakhir, anak bisa tampak bingung sesaat lalu kembali tidur. Keesokan paginya, sebagian besar tidak mengingat kejadian tersebut,” terang dr Yeni.
Pada kebanyakan kasus, night terror tidak berbahaya dan tidak memerlukan pengobatan khusus, terutama jika jarang terjadi. Salah satu faktor pencetus yang paling sering adalah kurang tidur.
“Anak yang terlalu lelah justru lebih berisiko mengalami episode ini. Karena itu, menjaga kecukupan dan kualitas tidur menjadi kunci utama,” katanya.
Ia mengimbau agar para orang tua untuk tetap tenang saat episode terjadi. “Jangan membangunkan anak secara paksa. Pastikan lingkungan aman agar anak tidak cedera. Jika perlu, orang tua dapat merekam kejadian tersebut untuk bahan konsultasi medis,” saran dr Yeni.
Ia juga mengingatkan pentingnya membedakan night terror dengan kejang. Secara umum, durasi night terror lebih lama dan gerakannya tidak selalu sama, sedangkan kejang biasanya singkat dan bersifat stereotip atau berpola sama setiap kali terjadi. Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan EEG atau electroencephalography dapat dilakukan guna merekam aktivitas gelombang otak.
“Kapan harus ke dokter? Jika kejadian sangat sering, gerakannya selalu sama dan sangat singkat, atau sampai menyebabkan cedera,” tegasnya.
Menutup penjelasannya, dr Yeni menekankan bahwa night terror pada sebagian besar anak merupakan bagian dari proses pematangan sistem saraf dan akan membaik seiring waktu.
“Yang terpenting adalah orang tua memahami kondisi ini secara rasional dan tetap menjaga pola tidur anak dengan baik,” pungkasnya. (AS)
