Menguak Misteri Ringkikan Kuda

Menguak Misteri Ringkikan Kuda

menguak-misteri-ringkikan-kuda.jpg
Ilustrasi (freepik)
Artikel

Sudah lama para pakar tingkah laku kuda berusaha menguak salah satu bentuk kecerdasan kuda dalam berkomunikasi. Di alam liar, kuda memiliki sistem komunikasi yang kompleks. Tidak hanya mengandalkan suara, tetapi juga menggunakan kombinasi bahasa tubuh, ekspresi wajah, gerakan telinga, postur tubuh, serta vokalisasi (suara) untuk menyampaikan informasi dan menjaga harmoni dalam kawanan.

Jika diamati lebih mendalam, kita sering kali melihat kuda menggerakkan ekor, mengubah posisi telinga dan sikap tubuh yang mengekspresikan emosi seperti waspada, marah, dan tenang. Di samping itu, kuda juga melakukan perubahan pada mata, mulut, dan hidung saat merasa tidak nyaman dan ketika merasa terancam.

Kontak fisik sering diperlihatkan kuda, seperti sentuhan lembut dan dorongan yang ditujukan untuk menguatkan ikatan sosial.

Apakah Kuda Dapat Berkomunikasi?
Dari sekian banyak bentuk tingkah laku yang ditunjukkan kuda, tampaknya vokalisasi yang paling banyak menarik perhatian para peneliti. Ringkikan, embusan napas, dan suara lembut sering dikeluarkan oleh kuda untuk memanggil, memperingatkan, atau menenangkan anggota kawanan. 

Pertanyaan paling mendasar adalah apakah kuda dapat berkomunikasi melalui suara?

Peneliti sepakat bahwa suara kuda mengalami evolusi seiring berjalannya waktu.  Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa saat kuda meringkik, ia mengeluarkan dua suara secara bersamaan, yaitu nada rendah yang berasal dari pita suara dan nada tinggi berupa siulan yang dihasilkan dari laring.

Ringkikan kuda ini berfungsi memberikan sinyal kegembiraan sekaligus memberi tahu lokasi untuk meningkatkan efisiensi dalam komunikasi sosial.

Kemampuan vokalisasi ini jarang ditemukan pada mamalia besar. Karenanya, hal ini dianggap sebagai adaptasi khusus kuda untuk memperkuat ikatan sosial dan koordinasi dalam kawanan. 

Hasil penelitian terbaru dalam jurnal ilmiah bergengsi ‘Current Biology, menunjukkan bahwa ringkikan kuda seperti sedang bernyanyi dan bersiul secara bersamaan. Kemampuan untuk menghasilkan dua suara sekaligus tersebut dikenal sebagai bifokasi.

Tidak seperti burung pada umumnya yang memiliki dua set struktur vokal yang dapat dengan mudah melakukan ini, mamalia termasuk kuda hanya memiliki satu set pita suara. Oleh sebab itu bifokasi yang dimiliki kuda termasuk kategori sangat jarang.

Peneliti dari Universitas Kopenhagen menemukan bahwa kuda menggunakan frekuensi suara rendah dan tinggi sekaligus saat meringkik. Suara rendah merupakan pernyataan bahwa kuda tersebut sedang dalam keadaan bugar dan galak, yang merupakan peringatan kepada kuda lain yang ada di sekitarnya.

Nada tinggi yang dikeluarkan seperti bentuk siulan dihasilkan oleh aliran udara yang dipaksa melalui celah kecil yang menyebabkan udara di sekitarnya bergetar pada frekuensi tertentu. Sebaliknya, suara rendah dihasilkan oleh pita suara, yakni saat udara mendorong pita suara yang kencang, menyebabkan pita suara membuka dan menutup secara bergelombang.

Hasil penelitian pakar tingkah laku kuda dari berbagai negara ini mengungkap bahwa vokalisasi pada kuda merupakan bentuk komunikasi. Nada tinggi yang dikeluarkan kuda diduga digunakan untuk komunikasi jarak jauh dan nada rendah untuk jarak dekat.

Hal inilah yang menjadi dasar mengapa ketika kuda dipisahkan dan dikumpulkan dengan kuda lainnya, mereka biasanya meringkik. Kuda juga dibuktikan dapat memanggil kuda lainnya yang tidak terlihat.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kuda memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosinya melalui berbagai jenis suara dengan frekuensi yang berbeda. Nada rendah menunjukkan emosi, sedangkan nada tinggi merupakan ekspresi kegembiraan.

Kuda ternyata memiliki bahasa tersendiri yang tentunya perlu diketahui oleh pemeliharanya. Vokalisasi dan juga ekspresi tingkah laku lainnya menunjukkan bahwa kuda merupakan makhluk sosial yang merasa lebih nyaman ketika berada dalam kawanan dan merasa gelisah jika berada dalam kesendirian.

Ketika memelihara kuda, perlu diketahui bahwa kuda bukanlah hewan yang dapat terus-menerus dikandangkan. Jika terlalu lama dikandangkan, ia akan menunjukkan emosi kemarahan dengan menendang dinding kandang dan mengekspresikan kegelisahan. Oleh sebab itu, penting bagi pemilik kuda untuk menjalin ikatan yang kuat dengan kudanya. Rutinlah membersihkan kuda dan ajak mereka jalan-jalan di alam agar kuda bahagia.

Prof Ronny Rachman Noor
Pakar Genetika Ekologi IPB University