Kupas Akar Kriminalitas dan Demoralisasi, Prof Dwi Hastuti Tekankan Pentingnya Pengasuhan Empatik sebagai Fondasi Kesehatan Mental
Perkembangan zaman dan pesatnya arus informasi membawa tantangan besar terhadap moralitas masyarakat. Mengatasi fenomena tersebut, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University, Prof Dwi Hastuti, menekankan pentingnya pengasuhan empatik sebagai fondasi kesehatan mental dan ketahanan keluarga.
Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Kauniyah Ramadan Care bertajuk “Pengasuhan Empatik sebagai Fondasi Kesehatan Mental” di Masjid Al Hurriyyah IPB University belum lama ini.
“Saat ini, etika kehidupan main longgar. Hal ini ditandai dengan munculnya gaya hidup materialisme dan hedonisme, serta kebebasan yang mengarah pada perilaku antisosial dan egosentrisme,” ujarnya di hadapan jamaah mahasiswa.
Menurutnya, terkikisnya rasa kepedulian antarsesama memicu berbagai isu sosial kontemporer yang semakin nyata. Ia menyoroti maraknya penyimpangan orientasi seksual, kecanduan narkotika, hingga tingginya angka kriminalitas sebagai wujud nyata dari krisis tersebut.
Prof Dwi menjelaskan, proses demoralisasi terjadi ketika logika manusia terkalahkan oleh hawa nafsu yang hanya mementingkan ego. Kondisi ini berdampak destruktif pada tiga lapisan utama, yakni individu, keluarga, dan masyarakat.
“Pada tingkat keluarga, penyimpangan ini dapat berujung pada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga penelantaran anak. Sementara di tingkat masyarakat, dampaknya meluas pada korupsi massal dan kejahatan terorganisir,” jelasnya.
Untuk memahami akar permasalahan perilaku menyimpang tersebut, ia merujuk pada problem behavior theory (PBT). Berdasarkan kerangka tersebut, perilaku bermasalah tidak terjadi di ruang hampa, melainkan dipengaruhi secara kompleks oleh personalitas, lingkungan keluarga, teman sebaya, serta kondisi sosial-budaya.
Lebih lanjut, ia juga meminjam pendekatan psikoanalisis Carl Jung untuk menegaskan pentingnya peran lingkungan terdekat. “Ego dan alam bawah sadar seseorang sangat kuat dibentuk oleh nilai-nilai keluarga, agama, dan budaya masyarakat. Di sinilah peran sangat krusial dari pengasuhan keluarga itu masuk,” tegas Prof Dwi.
Sebagai solusi fundamental menghadapi krisis moral, ia mengajak institusi pendidikan dan keluarga untuk kembali pada amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). Pendidikan, tegasnya, harus dikembalikan pada tujuan utamanya, yakni meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia.
Melalui pengasuhan yang empatik dan berlandaskan nilai spiritual yang kuat, ia berharap institusi keluarga dapat kembali menjadi benteng utama dalam mencegah demoralisasi serta menjaga kesehatan mental generasi penerus bangsa. (*/Rz)
