IPB University Berhasil Capai 1.709 Judul Riset dengan Pendanaan Rp836 Miliar pada 2025
Sepanjang tahun 2025, IPB University mencatat lonjakan kinerja riset yang signifikan. IPB University berhasil mencapai 1.709 judul riset dengan total pendanaan sebesar Rp836 miliar.
Capaian riset IPB tidak hanya terlihat dari jumlah judul dan besaran dana, tetapi juga dari dampaknya bagi masyarakat. Di bidang ketahanan pangan, IPB University telah menghasilkan 145 varietas unggul berbagai komoditas, seperti padi, cabai, pepaya, pisang, melon, dan manggis. Di antara varietas yang menonjol adalah varietas Padi IPB 3S dan IPB 9G yang dikenal produktif dan adaptif di berbagai kondisi lahan.
Dalam inovasi berbasis limbah dan ekonomi sirkular, IPB University mengembangkan rompi antipeluru berbahan serat limbah sawit. Sementara di bidang kesehatan dan herbal, sejumlah produk hilirisasi telah dimanfaatkan masyarakat, seperti Bioluric sebagai obat herbal penurun asam urat serta Cajuputs® Candy berbasis minyak kayu putih.
“IPB memastikan setiap riset memiliki dampak nyata melalui pendekatan berbasis output, outcome, hingga impact,” kata Asisten Direktur Riset Dasar dan Terapan, Direktorat Riset dan Inovasi IPB University, Dr Eng Obie Farobie.
Mekanisme yang diterapkan antara lain pengukuran tingkat kesiapan teknologi (TKT), presentasi dan kurasi inovator untuk menilai potensi ekonomi dan sosial, seleksi inovasi terbaik melalui Launching Inovasi IPB, serta integrasi dengan program hilirisasi dan inkubasi, termasuk perlindungan hak kekayaan intelektual dan uji sertifikasi.
Capaian riset di tahun 2025, sebut Dr Obie, diraih berkat ekosistem riset IPB University yang dinilainya telah matang dan berjalan secara sistematis.
“Budaya riset di IPB bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi telah menjadi bagian dari identitas institusi. Dosen dan peneliti terbiasa menyusun proposal kompetitif setiap tahun dan berkolaborasi lintas disiplin,” ujarnya.
Strategi proaktif juga dilakukan melalui sosialisasi dan roadshow berbagai skema pendanaan ke fakultas, sekolah, dan pusat studi agar peneliti responsif terhadap peluang pendanaan. Selain itu, Klinik Proposal hadir sebagai sarana review internal sebelum pengajuan hingga pendampingan substansi dan anggaran.
Faktor lainnya adalah penyelarasan topik riset dengan prioritas nasional dan global, seperti ketahanan pangan dan energi, kesehatan, teknologi digital, bioekonomi dan ekonomi sirkular, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), serta agenda hilirisasi.
“Kesesuaian ini meningkatkan approval rate karena proposal menjawab kebutuhan strategis nasional,” kata Dr Obie.
Selain itu, penguatan manajemen riset turut menjadi penopang capaian tersebut. IPB University, kata dia, terus memperkuat tata kelola melalui sistem monitoring dan evaluasi berbasis kinerja, target kuantitatif dan kualitatif yang jelas, serta dukungan administrasi yang responsif.
Pendanaan dalam jumlah besar juga banyak diperoleh melalui kolaborasi dan konsorsium multiinstitusi, kerja sama internasional, kemitraan dengan industri, serta pemerintah daerah.
“Untuk meningkatkan jumlah riset dan total pendanaan, IPB University menerapkan strategi terstruktur dari hulu hingga hilir. Salah satunya melalui pembinaan dosen muda secara bertahap dan berjenjang melalui Skema Dosen Muda Regular dan Skema Dosen Muda Advance,” jelasnya.
Ia menambahkan, IPB University juga menyediakan skema riset fundamental sebagai pendanaan internal bagi dosen yang belum memperoleh dana eksternal. Skema ini berfungsi sebagai starter fund untuk membangun rekam jejak penelitian.
“Ke depan, IPB mengarahkan riset pada agenda strategis nasional dan global dengan tetap mempertahankan keunggulan di bidang agromaritim. Ekspansi juga dilakukan pada bidang omics science, artificial intelligence, sustainability, serta sosial humaniora untuk menjawab tantangan masa depan,” tutupnya. (dh)
