Inovasi PreciFoods IPB University, Bantu Pilih Menu Restoran Sesuai Kebutuhan Gizi

Inovasi PreciFoods IPB University, Bantu Pilih Menu Restoran Sesuai Kebutuhan Gizi

inovasi-precifoods-ipb-university-bantu-pilih-menu-restoran-sesuai-kebutuhan-gizi.jpg
Ilustrasi (freepik)
Prestasi / Riset dan Kepakaran

Memilih makanan di restoran sering kali menjadi dilema banyak orang. Banyaknya menu dengan cita rasa berbeda membuat konsumen tidak selalu mudah menentukan pilihan, terlebih yang sesuai dengan kebutuhan gizi tubuh.

Menjawab tantangan tersebut, inovator IPB University mengembangkan PreciFoods, sebuah Sistem Pendukung Keputusan (SPK) cerdas dengan pendekatan gizi presisi. Inovasi ini masuk dalam 117 Inovasi Indonesia versi Business Innovation Center tahun 2025.

“Inovasi PreciFoods ini mengembangkan SPK menggunakan genetic algorithm dengan pendekatan gizi presisi untuk menghasilkan rekomendasi menu yang tepat bagi setiap individu secara komprehensif dan dinamis,” ujar ketua tim pengembang, Prof Kudang Boro Seminar.

Ia menjelaskan, rekomendasi menu yang dihasilkan sistem ini mempertimbangkan berbagai variabel, seperti faktor riwayat dan status kesehatan, aktivitas fisik, pola makan, hingga karakteristik sosial ekonomi dan psikososial individu. Meski demikian, sistem tetap memperhatikan preferensi atau selera masing-masing pengguna.

Menurutnya, keberagaman kuliner serta selera masyarakat Indonesia dalam memilih makanan sering kali membuat pemenuhan menu yang sesuai kebutuhan gizi menjadi tantangan tersendiri. Hal ini terutama dirasakan oleh konsumen dengan kondisi khusus, seperti perbedaan usia, jenis kelamin, berat dan tinggi badan, maupun mereka yang memiliki pantangan makanan akibat riwayat penyakit.

“Inovasi ini hadir agar setiap orang memiliki panduan dalam memilih makanan yang sesuai selera, tetapi tetap sehat,” katanya.

Aplikasi PreciFoods ditawarkan bagi restoran, baik yang beroperasi secara daring maupun luring, yang memiliki data resep serta komposisi bahan dari setiap menu masakan. Restoran yang berpartisipasi dapat mengakses basis data PreciFoods untuk mempromosikan sekaligus merekomendasikan menu yang lebih sehat dan sesuai kebutuhan pelanggan secara personal.

Melalui aplikasi ini, konsumen juga dapat memperoleh informasi mengenai kalori dan kandungan nutrisi dari setiap menu yang disajikan restoran. Informasi tersebut selama ini sulit diperoleh karena banyak restoran menggunakan resep serta komposisi bahan yang berbeda, meskipun nama menunya sama.

Selain membantu konsumen menjaga pola makan dan memenuhi kebutuhan gizi secara lebih spesifik, inovasi ini juga membuka peluang bagi pemilik restoran untuk memberikan layanan yang lebih personal sekaligus meningkatkan nilai komersial usaha mereka.

Dalam jangka panjang, PreciFoods juga berpotensi dimanfaatkan oleh berbagai fasilitas penyedia makanan seperti restoran, hotel, rumah sakit, rumah jompo hingga rumah perawatan khusus. Sistem ini dapat digunakan untuk menyediakan menu makanan yang sehat sekaligus ramah terhadap kebutuhan pribadi pelanggan.

Prof Kudang dan tim berharap, pengembangan PreciFoods dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sistem pangan nasional yang lebih sehat dan berkelanjutan, dengan memanfaatkan agregasi data masyarakat yang bersifat presisi dan personal. (dh)