Guru Besar IPB University: Iptek Bukan Sekadar Kemajuan Material, Melainkan Tanggung Jawab Moral

Guru Besar IPB University: Iptek Bukan Sekadar Kemajuan Material, Melainkan Tanggung Jawab Moral

guru-besar-ipb-university-iptek-bukan-sekadar-kemajuan-material-melainkan-tanggung-jawab-moral.jpg
Ilustrasi (freepik)
Berita / Riset dan Kepakaran

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sering kali dipandang hanya sebagai instrumen kemajuan material. Padahal, sejatinya iptek harus menjadi rahmat yang membawa maslahat bagi manusia dan menjaga keseimbangan harmoni di bumi.

Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi (FTT) IPB University, Prof M Faiz Syuaib, dalam Kajian Subuh di Masjid Al Hurriyyah, Kampus Dramaga.

Kajian mengusung tema “Iptek sebagai Rahmat untuk Membangun Maslahat bagi Manusia dan Menjaga Harmoni di Bumi”, yang menjadi bagian dari Semarak Ramadan 1447 H.

“Allah telah memuliakan manusia dengan berbagai keistimewaan. Salah satu bentuk kemuliaan terbesar itu adalah anugerah akal, yang membuat manusia mampu berpikir, berinovasi, dan membedakan yang benar dan salah,” ujarnya di hadapan jamaah mahasiswa.

Tiga Misi
Prof Faiz menjelaskan, karena akal dan kapasitas intelektual inilah, manusia memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk menggunakan kelebihannya dalam kebaikan. Menurutnya, ada tiga misi utama manusia di bumi yang saling berkesinambungan.

Misi pertama adalah sebagai hamba yang mengabdi (abd-Allah). Ia menegaskan bahwa konsep ibadah tidak boleh direduksi hanya pada ritual keagamaan semata.

“Ibadah mencakup kesetiaan dan loyalitas penuh dalam seluruh aspek kehidupan. Artinya, setiap aktivitas produktif seperti belajar, bekerja, berinovasi, dan berkarya bisa bernilai ibadah jika dilakukan sesuai kehendak-Nya,” jelasnya.

Misi kedua, lanjutnya, adalah peran manusia sebagai pengelola atau manajer di bumi (khalifah). Dalam konteks ini, manusia dituntut untuk tidak membuat kerusakan serta mengelola sumber daya alam dengan bijak dan berkelanjutan menggunakan instrumen iptek.

Sementara itu, misi ketiga adalah sebagai pembangun peradaban sekaligus pemakmur bumi. Prof Faiz mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh hanya bersifat eksploitatif dan berorientasi material.

“Manusia bertugas membangun peradaban yang berlandaskan iman, ilmu, dan akhlak. Peradaban yang baik dan tangguh hanya akan lahir dari keseimbangan antara nilai-nilai spiritual agama dan kemajuan ilmu pengetahuan,” pungkasnya.

Melalui pemahaman atas ketiga misi ini, mahasiswa sebagai sivitas akademika diharapkan tidak hanya unggul secara kognitif, tetapi juga mampu mendayagunakan ilmunya sebagai solusi atas berbagai krisis lingkungan dan sosial di masyarakat. (*/Rz)