Fakultas Pertanian IPB University Akselerasi Pengembangan Smart Agriculture dan Inovasi Varietas Nasional

Fakultas Pertanian IPB University Akselerasi Pengembangan Smart Agriculture dan Inovasi Varietas Nasional

fakultas-pertanian-ipb-university-akselerasi-pengembangan-smart-agriculture-dan-inovasi-varietas-nasional.jpg
Berita

Sebagai fakultas paling bersejarah di IPB University, Fakultas Pertanian (Faperta) terus berupaya menjaga relevansinya di tengah perubahan zaman. 

Dalam beberapa tahun terakhir, Faperta menghadirkan berbagai terobosan, mulai dari pembukaan Program Studi Smart Agriculture, 127 varietas unggul terdaftar hingga pengembangan model implementasi di masyarakat.

Dekan Faperta IPB University, Prof Suryo Wiyono, menegaskan bahwa dalam satu hingga dua tahun terakhir Faperta mencatat sejumlah capaian strategis. “Faperta IPB University ini sebenarnya fakultas yang tertua, legend, dan menjadi rujukan fakultas pertanian di Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, salah satu capaian utama adalah pembukaan Program Studi S1 Smart Agriculture yang masuk lima besar program studi paling diminati di IPB University.

Selain itu, Faperta dikenal dengan inovasi berdampak luas. Dalam 10 tahun terakhir, tercatat 165 inovasi, terdiri atas 127 perlindungan varietas tanaman yang telah granted serta sekitar 30 paten teknologi lainnya, termasuk biofertilizer, biopestisida, dan pemupukan presisi.

“Inovasi kami tidak berhenti di laboratorium, tetapi diimplementasikan dalam model pengembangan di masyarakat,” katanya.

Salah satu contoh adalah Kampung Inovasi IPB di Subang seluas 500 hektare berbasis padi dari hulu hingga hilir. Selain itu, pengembangan teknologi padi gogo telah diterapkan di sekitar 10 kabupaten, antara lain di Bojonegoro, Gunung Kidul, Bantul, Bogor, Murung Raya, hingga Berau. Implementasi ini menjadi jawaban atas tantangan keterbatasan sawah dan kebutuhan pangan nasional.

Dalam aspek pendidikan, Faperta menerapkan kurikulum 2025 dengan pendekatan project-based learning dan case-based learning. Menurut Prof Suryo, pendekatan ini sangat relevan dengan bidang pertanian, misalnya dalam mendiagnosis penyakit tanaman secara langsung di lapangan.

Faperta juga aktif menginisiasi kerja sama intensif dengan mitra internasional, salah satunya dengan Gyeongsang National University dalam pengembangan Smart Agriculture, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga penyediaan peralatan dan buku ajar.

Di bidang riset unggulan, Faperta memfokuskan pada pengembangan varietas adaptif perubahan iklim, teknologi presisi dan smart farming, serta teknologi mikroba untuk pengendalian penyakit, toleransi kekeringan dan salinitas, hingga reklamasi tambang. Bahkan, lembaga internasional seperti World Bank menjadikan Faperta sebagai entry point pengembangan soil health di Indonesia.

Ke depan, Prof Suryo menargetkan Faperta pada penguatan pengakuan global dengan tetap berwawasan kebangsaan dan kerakyatan. “Kita ingin sivitas akademika ter-engage secara global, tetapi tetap memiliki orientasi nasional,” tegasnya.

Selain itu, ia berkomitmen memastikan inovasi di Faperta memberikan dampak ekonomi signifikan serta melakukan modernisasi berkelanjutan di seluruh lini fakultas. (dr)