Dosen IPB University Bagikan Tips Kelola Keuangan Pasca-Lebaran dengan Pola 50-30-20

Dosen IPB University Bagikan Tips Kelola Keuangan Pasca-Lebaran dengan Pola 50-30-20

dosen-ipb-university-bagikan-tips-kelola-keuangan-pasca-lebaran-dengan-pola-50-30-20.jpg
Ilustrasi (freepik)
Riset dan Kepakaran

Lebaran kerap diikuti lonjakan pengeluaran yang berpotensi melebihi anggaran keluarga. Selain belanja kebutuhan Hari Raya, tantangan lain yang sering muncul adalah pengeluaran tak terduga hingga kehabisan dana yang dapat mengganggu kondisi keuangan rumah tangga. 

Dr Wita Juwita Ermawati, dosen Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, membagikan sejumlah tips untuk mengelola keuangan selama Lebaran.

Ia menyarankan setiap keluarga menghitung total pengeluaran selama Lebaran serta memeriksa kembali posisi keuangan terkini. “Penting untuk memeriksa apakah ada pos keuangan yang terganggu, tabungan yang terpakai, atau bahkan utang yang muncul,” ujarnya.

Menurutnya, menabung kembali setelah Lebaran menjadi langkah penting untuk memulihkan kondisi keuangan sekaligus mengingat tujuan keuangan yang telah direncanakan.

Dr Wita menjelaskan, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi kebutuhan rutin sehari-hari serta kebutuhan nonrutin dalam jangka pendek, menengah, dan panjang, seperti biaya pendidikan anak, kesehatan, hingga rencana liburan. Setelah itu, setiap kebutuhan perlu diprioritaskan berdasarkan tingkat urgensi dan disesuaikan dengan kemampuan pendapatan.

Ia juga mendorong keluarga membuat target keuangan masa depan, seperti dana pernikahan, ibadah, maupun investasi. Menurutnya, ketersediaan tabungan yang memadai sangat penting untuk menghindari utang, terutama dalam kondisi darurat. Ia juga mengimbau agar tidak menjadikan pinjaman online (pinjol) sebagai solusi instan. 

Pola 50-30-20
Dalam mengatur anggaran, Dr Wita merekomendasikan penggunaan pola 50-30-20, yakni 50 persen pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk keinginan atau cicilan utang, dan 20 persen untuk tabungan.

Apabila pengeluaran rutin lebih besar daripada pendapatan, ia menyarankan agar keluarga meninjau kembali pos pengeluaran yang tidak mendesak serta mempertimbangkan mencari tambahan penghasilan.

Dengan disiplin mengelola anggaran dan melakukan evaluasi keuangan tahunan, Dr Wita menilai masalah keuangan pasca-Lebaran dapat diminimalkan. Evaluasi tersebut juga penting sebagai dasar perencanaan keuangan keluarga pada tahun berikutnya agar kondisi keuangan tetap terjaga. (dh)